PENGUKURAN DOBOWITZ SCORE NEONATUS

LEMBAR EVALUASI DOBOWITZ SCORE

PENGUKURAN MATURITAS BAYI BERDASARKAN UMUR KEHAMILAN

Nama Bayi            :

Tgl Lahir               :

  1. MATURITAS FISIK (10%)

ANGKA PENILAIAN

TANDA EKSTERNAL 0 1 2 3 4
Edema Edema nyata yang mengenai tangan dan kaki, menimbulkan lekukan (piting) pada permukaan tibia Tidak terdapat edema yang nyata pada tangan dan kaki; menimbulkan lekukan pada permukaan tibia Tidak ada edema
Tekstur kulit Sangat tipis seperti agar-agar Tipis dan licin Licin;ketebalan sedang;ruam atau pengelupasan yang superfisial Sedikit tebal;pecah-pecah serta mengelupas bagian superficial, terutama pada tangan dan kaki Tebal seperti perkamen;pecah-pecah yang superficial atau yang dalam
Warna kulit (pada bayi yang tidak menangis) Merah tua Merata merah muda Merah muda yang pucat; warna kulit tubuh variabel Pucat;yang merah muda hamya telinga, bibir, telapak tangan atau telapak kaki
Keburaman kulit (pada batang tubuh) Banyak pembuluh vena dan venula dapat terlihat dengan jelas, terutama diatas abdomen Pembuluh darah vena dan percabangannya dapat terlihat Sejumlah kecil pembuluh darah besar dapat dilihat dengan jelas di atas abdomen Sejumlah kecil pembuluh darah besar dapat dilihat dengan kurang tegas di atas abdomen Tidak ada satupun pembuluh darah yang terlihat
Lanugo (diatas belakang tubuh) Tidak terdapat lanugo Sangat banyak dan tebal meliputi seluruh bagian belakang tubuh Rambut menipis terutama diatas belakang tubuh bagian bawah Sejumlah kecil lanugo dan daerah yang gundul Paling tidak setengah dari belakang tubuh bebas dari lanugo
Guratan telapak kaki Tidak terdapat guratan pada kulit Tanda merah yang tidak jelas yang terdapat pada lebih dari setengah bagian depan telapak kaki Tanda merah yang tegas pada lebih dari setengah bagian;lekukan pada kurang dari sepertiga bagian depan Lekukan yang terdapat pada lebih dari sepertiga bagian depan Lekukan dalam yang tegas yang terdapat pada lebih dari sepertiga bagian depan
Pembentukan putting susu Putting susu hampir tidak kelihatan, tidak ada areola Putting susu berbatas jelas, areola licin serta datar, garis tengah < 0,75 cm Areola berbentuk bintik, tepi tidak timbul, garis tengah < 0,75 cm Areola berbintik-bintik, tepi timbul, garis tengah > 0,75 cm
Ukuran payudara Tidak teraba adanya jaringan payudara Jaringan payudara teraba pada satu atau kedua sisi dengan garis tengah 0,5 cm Jaringan payudara teraba pada kedua sisi, satu atau keduanya dengan garis tengah 0,5 cm sampai 1,0 cm Jaringan payudara teraba pada kedua sisi, satu atau keduanya dengan garis tengah lebih dari 1 cm
Bentuk telinga Daun telinga datar dan tidak berbentuk, penekukan tepi daun telinga kedalam sedikit atau tidak ada sama sekali Penekukan kedalam sebagian tepi daun telinga Penekukan kedalam secara parsial seluruh bagian atas daun telinga Penekukan kedalam yang tegas dari seluruh bagian atas daun telinga
Kekukuhan daun telinga Daun telinga lunak, mudah dilipat-lipat, tidak ada pembalikan kembali Daun telinga lunak, mudah dilipat-lipat, pembalikan kembali secara lambat Tulang rawan mencapai tepi daun telinga. Tetapi pada beberapa tempat lunak, pembalikan kembali dengan mudah Daun telinga kukuh dan tegas, tulang rawan mencapai tepi daun telinga, pembalikan kembali segera
Alat kelamin laki-laki Tidak satu testispun yang terdapat pada skrotum Paling tidak satu testis berada tinggi di dalam skrotum Paling tidak satu testis berada dibagian bawah skrotum
Alat kelamin perempuan Labia mayora terpisah jauh satu sama lain Labia mayora hampir menutupi labia minora seluruhnya Labia mayora telah menutupi labia minora secara sempurna

Posted in Keperawatan anak, Tak Berkategori | Leave a comment

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN

Gangguan sistem integumen adalah suatu gangguan yang berhubungan dengan jaringan penutup permukaan tubuh, seperti membran mukosa dan kulit, yang sering terjadi dan bersifat relatif ringan( Nursalam)
Gangguan sistem integumen ini sering dialami oleh bayi dan anak. Meskipun sifatnya relatif ringan, apabila tidak ditangani secara serius, maka hal tersebut dapat memperburuk kondisi kesehatan bayi dan anak.
Adapun yang termasuk dalam gangguan sistem integumen yang sering terjadi pada masa balita adalah :
• oral trush, ruam popok, impetigo,muntah, regurgitasi, &ikterus fisiologis.

1. ORAL TRUSH
• Konsep dasar penyakit
a. Definisi
Yaitu adanya bercak putih pada lidah, langit-langit dan pipi bagian dalam (Wong, 1995).
Bercak tersebut sulit untuk dihilangkan dan jika dipaksa untuk diambil, maka akan menyebabkan perdarahan. Oral trush ini sering juga disebut dengan oral candidiasis atau moniliasis. Oral trush sering terjadi pada masa bayi. Seiring dengan bertambahnya usia, maka angka kejadian makin jarang.
b. Penyebab
Penyebab oral trush pada umumnya adalah candida albicans. Candida albicans ini adalah sejenis jamur yang bisa ditularkan melalui vagina ibu yang terinfeksi selama persalinan (saat bayi baru lahir) atau transmisi melalui botol susu dan putting susu yang tidak bersih atau prosedur cuci tangan yang tidak benar. Oral trush ini sering menyerang bayi pada 6 bulan kandungan pertama.
c. Tanda dan gejala
Oral trush biasanya ditunjukkan dengan adanya bercak putih, krem atau kuning di membran mukosa mulut. Bercak-bercak ini kadang terlihat seperti pondok-pondok keju “cottage cheese”. Dan kadang bercak-bercak ini sulit dibedakan dengan sisa air susu, terutama pada bayi yang mendapat susu formula. Bedanya, sisa susu yang berupa lapisan endapan putih tebal dapat dibersihkan dengan kapas lidi yang dibasahi dengan air hangat, sedangkan oral trush tidak demikian. Bercak pada oral trush sulit dihilangkan dan bila diambil untuk diperiksa akan menyebabkan perdarahan. Bercak oral trush bisa ditemukan di pinggir mulut, pada bibir, lidah atau bagian dalam pipi.
• Asuhan anak dengan oral trush
a) Pengkajian
– Tampak bercak keputihan pada mulut, terutama pada lidah dan pipi bagian dalam yang sulit dibersihkan.
– Anak kadang-kadang menolak untuk minum.
– Pola kebersihan cenderung kurang. Orang tua jarang mencuci tangan saat merawat atau menetekkan bayinya. Selain itu, kebersihan botol atau putting ketika menyusui bayi juga kurang diperhatikan.
b) Masalah
o Infeksi pada mukosa oral
o Gangguan integritas kulit
o Perubahan kenyamaan : nyeri
o Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
o Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
c) Diagnosa
o Gangguan integritas kulit(mukosa oral) b.d infeksi pada mukosa oral
o Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake tidak adekuat.
d) Perencanaan
Dx : gangguan integritas kulit (mukosa oral) b.d infeksi pada mukosa oral
Kriteria hasil :
anak menunjukkan tanda-tanda penyembuhan mukosa oral
Anak tidak menunjukkan tanda-tanda komplikasi, seperti diare
Ibu menunjukkan cara perawatan putting susu dan botol susu yang tepat
Ibu mencuci tangan sebelum dan sesudah menyusukan bayi
o Bayi :
– Jaga kebersihan bayi
– Untuk perawatan mulut bayi, bersihkan terlebih dahulu dengan jari yang dibungkus dengan kain bersih/kassa yang telah dibasahi dengan larutan garam. Kemudian oleskan gentian violet 0,25% pada mulut dengan kapas lidi.
– Atau bisa juga diberikan oral mycostatin 4xsehari sebanyak 1cc selama 1 minggu atau sampai gejal hilang.
o Ibu :
– Cuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi.
– Ibu yang terinfeksi candida harus diobati untuk mencegah infeksi berulang.
– Jaga kebersihan putting susu.
– Gunakan krem anti fungal pada putting untuk mencegah penyebaran infeksi antara ibu dengan anak.
– Bersihkan putting susu dengan air hangat setelah menetekkan bayi
– Botol : jaga kebersihan botol.

2. RUAM POPOK
• Konsep dasar penyakit
1. Definisi
Adalah inflamasi pada kulit yang disebabkan secara langsung atau tidak langsung oleh pemakaian popok (Wong, 1993). Ruam popok sering disebut juga dengan diaper rush atau diaper dermatitis.
2. Penyebab
Ada beberapa penyebab ruam popok, diantaranya :
o Iritasi yang lama dari urin dan feses→kulit bayi yang terpapar cukup lama dengan urin atau feses bisa menimbulkan iritasi pada kulit bayi.
o iritasi dari bahan kimia pencuci popok seperti sabun, detergen, pemutih, pelembut pakaian.
o Diare.
o Reaksi alergi terhadap bahan popok/ kulit yang sensitif.
o Pengenalan makanan tambahan
Lebih dari separoh bayi berusia 4-15 bulan terjadi ruam popok sedikitnya 1x dalam 2bulan.
3. Tanda dan gejala
Gejala ruam popok sangat bervariasi, mulai dari adanya makula eritematesus pada kulit yang tertutup popok, sampai adanya papula, vesikel, pustula, dan erosi superfisial.
Diaper rush ditunjukkan dengan adanya kulit di daerah sekitar bokong, paha, genitalia bayi yang meradang yang berwarna kemerahan dan agak panas. Bayi akan kelihatan tidak nyaman, susah tidur, gelisah ketika popoknya diganti. Dan mungkin bayi akan menangis ketika daerah diaper rush dibersihkan atau disentuh.
• Asuhan anak dengan ruam popok
1. Pengkajian
– Umur
Ruam popok umumnya terjadi pada anak yang berusia kurang dari 2 tahun. Setelah umur lebih dari 2 tahun, anak jarang mengalami hal ini.insiden terbanyak pada anak dengan usia 9-12 bulan.
– Pola kebersihan cenderung kurang terutam pada daerah perianal, bokong dan perut bagian bawah. Apabila selesai BAB/BAK, daerah pantat tidah dibersihakan dengan air sebelum diganti dengan popok yang bersih. Selain itu, popok basah terkena urin/feses yang tidak segera diganti, bahkan sampai kering kembali akan mempermudah terjadinya ruam popok.Bayi sering menggunakan popok plastik yang kedap air dan diposible, yang terbuat dari bahan sistesis, dalam waktu lama.
– Perlu dikaji bagaimana cara ibu mencuci pakaian dan popok. Apabila menggunakan popok disposible, harus diganti setiap beberapa jam. Pencucian yang tidak bersih dapat menyebabkan terjadinya ruam popok, akibat detergen yang tertinggal pada pakaian.
– Pada pemeriksaan daerah bokong, terjadi bintik-bintik kemerahan yang kadang berisi nanah.demikian juga pada daerah perut.
– Anamnesa faktor alergi.
2. Masalah Keperawatan
• Infeksi pada daerah bokong
• Gangguan integritas kulit
• Ganggua rasa nyaman: nteri
• Gangguan pola tidur
3. Diagnosa Keperawatan
o Gangguan integritas kulit b.d infeksi pada daerah bokong
o Gangguan pola tidur b. d nyeri
4. Intervensi
Dx : gangguan integritas kulit b. d infeksi pada daerah bokong
Kriteria hasil :
Anak menunjukkan tanda-tanda penyembuhan ruam pada bokong
Ibu dapat menjaga kulit bayi agar tetap kering
– Hindari penggunaan sabun yang berlebihan untuk membersihkan daerah pantat atau bokong.
– Sebaiknya bunakan kapas dengan air hangat atau kapas dengan minyak untuk membersihkan daerah perianal segera setelah BAB/BAK.
– Bila terdapat bintik kemerahan, berikan krem atau salep dan biarkan terbuka untuk beberapa saat.
– Jaga agar kulit tetap kering dengan cara :
o Apabila menggunakan popok kain, perhatikan agar sirkulasi udara tetap terjaga.
o Apabila menggunakan popok disposible, pilihlah yang menggunakan bahan super absorbent yaitu popok yang terbuat dari bahan yang mengandung gel penyerap.
o Hindari menggunakan popok/ celana yang tebuat dari plastik atau karet.
o Berikan posisi tidur yang selang-seling, terutama daerah pantat agar tidak tertekan dan dapat memberikan kesempatan pada bagian tersebut untuk kontak dengan udara.
o Jaga kebersihan tubuh dan lingkungan secara umum.
o Biarkan bayi tanpa popok selama beberapa saat.
o Penggunaan bedak talk dapat menjaga kulit bayi tetap kering.
o Pakaian, celana atau popok yang kotor sebelum dicuci, sebaiknya direndam dulu dengan air yang dicampur acidum boricum, kemudian dibilas, lalu dikeringkan. Hindari penggunaan detergen ataupun pengharum pakaian.

3. IMPETIGO
 Konsep dasar penyakit
a. Definisi
Impetigo adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri, yang menyebabkan terbentuknya lepuhan-lepuhan kecil yang berisi nanah (pustula). Impetigo biasanya ditemukan di wajah, lengan dan tungkai, namun bisa juga di daerah mana saja pada kulit. Impetigo paling sering menyerang anak-anak sekolah, sehingga sering disebut juga “ school sores”.
b. Penyebab
Ada dua bakteri peyebab impetigo adalah, stafilokokus aureus dan sterptokokus. Penularannya dapat melalui 2 cara, yaitu : kontak langsung dengan penderita dan kontak tidak langsung melalui benda-benda yang terkontaminasi seperti pakaian, handuk, mainan, dll.
c. Tanda dan gejala
Impetigo diawali dengan tunbuhnya bulae (lepuh)berisi nanah berwarna kuning yang ukurannya mulai dari beberapa milimeter sampai beberapa centimeter. Impetigo ini mudah pecah dan menjadi luka terbuka yang ukurannya dapat menjadi lebih besar. Bulae ini akan pecah dalam 1 atau2 hari dengan meninggalkan warna merah, basah dan tertutup krustae(keropeng), serta dapat menyebar ke bagian kulit lain.

 Asuhan keperawatan pada anak dengan impetigo
1. Pengkajian
• Usia. Sering terjadi pad anak berusia di bawah 5 tahun.
• Terdapat bulae(lepuh) pada bagian tubuh tertentu. Dalam 1-2 hari lepuh akan pecah kemudian membentuk krustae (keropeng).
• Pola kebersihan relatif kurang. Orang tua yang mengabaikan masalah kebersihan merupakan faktor yang mempermudah terjadinya penularan, seperti, pakaian dan handuk dipakai bersama, serta tidak mencuci tangan sebelumdan sesudah memegang lepuh/krustae.
2. Masalah
a. Gangguan integritas kulit
b. infeksi
c. Resiko penularan
d. Gangguan rasa nyaman : nyeri
3. diagnosa;
o gangguan integritas kulit b.d infeksi
o resiko penularan b.d adanya agen infeksius pada kulit
4. Intervensi
Dx : gangguan integritas kulit b.d infeksi
Kriteria hasil :
o Anak menunjukkan tanda-tanda penyembuhan impetigo
o Anak mendapat nutrisi yang adekuat
a. Rawat bulae/krustae dengan prinsip aseptik. Untuk melepaskan krustae (keropeng), basahi dulu bagia tersebut dengan larutan aseptik (misal:savlon). Bila di rumah tangga bahan tersebut tidak tersedia, maka bisa menggunakan air matang dan sabun. Jika krustae sudah hilang, oleskan salep antibiotik 2-3 kali sehari.
b. Usahakan agar salep tetap berada pada luka dan anak tidak menggaruknya.
c. Bila tidak ada perbaikan, ajurkan agar anak dibawa kedokter lagi. Kemungkinan dokter akan mengkultur dan memberikan antibiotik jenis lain.
d. Berikan nutrisi yang cukup.
Dx : resiko penularan b.d adanay agen infeksius pada kulit
Kriteria hasil:
o Anggota keluarga dapat menjaga diri dari penderita impetigo
o Keluarga dapat melakukan perawatan segera pada anak yang menderita impetigo
a) Jaga kebersihan tubuh dan lingkungan. Pisahkan celana/pakaian yang kotor, pakaian anak yang menderita impetigo saat mencucinya.
b) Jauhkan kontak dari anak lain untuk sementara. Orang tua harus hati-hati, hindari kontak dengan anak sehat.
c) Jelaskan tentang impetigo kepada anggota keluarga lain, agar masing-masing dapat menjaga dirinya sendiri. Apabila ada anggota keluarga yag tertular, segera rawat dan obati.

4. MUNTAH
 Konsep dasar peyakit
1) Pengertian
Muntah adalah keluarnya kembali sebagian besar atau seluruh isi lambung yang terjadi secara paksa melalui mulut, diserati dengan kontraksi lambung dan abdomen (markum : 1995).
2) Penyebab
Muntah bisa disebabkan karena adanya faktor fisiologis seperti kelainan kongenital dan infeksi. Selain itu muntah juga disebabkan oleh gangguan psikologis seperti keadaan tertekan atau cemas, terutama pada anak yang lebih besar.
Ada beberapa gangguan yang dapat diidentifikasi akibat muntah yaitu:
• Muntah terjadi beberapa jam setelah keluarnya lendir yang kadang disertai dengan sedikit darah. Hal ini kemungkinan terjadi karena iritasi lambung akibat sejumlah bahan yang tertelan selama proses kelahiran.
• Muntah yang terjadi pada hari-hari pertama kelahiran, dalam jumah banyak, tidak secara proyektil, tidak berwarna hijau, dan cenderung menetap biasanya terjadi akibat dari obstruksi usus halus.
• Muntah yang terjadi secara proyektil (menyemprot) dan tidak berwarna kehijauan merupakan tanda adanya stenosis pilorus.
• Selain keadaan tersebut diatas, yang juga dapat menjadi salah satu tanda adalah peningkatan tekanan intra kranial, alergi susu, infeksi , atau gangguan lainnya.
• Muntah yang terjadi pada anak yang tampak sehat. Hal ini terjadi mungkin karena kesalahan pada teknik pemberian makan atau pada faktor psikososial seperti gangguan pada hubungan pada ibu dan anak.
 Asuhan keperawatan anak dengan muntah
a. Pengkajian
 Anamnesis tentang waktu terjadinya muntah, sifat muntahan ( misal : proyektil atau tidak, warna, dan bahan yang keluar.
 Pola makan anak, makanan yang dimakan serta adanya alergi susu atau makanan tertentu.
 Riwayat penyakit dan kemungkinan penyakit yang menyertainya, seperti obstruksi usus halus, stenosis pilorus, atau gangguan lainnya.
 Bayi dengan tanda-tanda dehidrasi bila muntahannya hebat.
 Hubungannya dengan orang tua. Pada kondisi tertentu, faktor psikologis bisa merupakan faktor pencetus muntah.
 Pemeriksaan penunjang.
 Apabila muntah terjadi terus-menerus, maka diperlukan pemeriksaan USG abdomen dan radiologis. Hal tersebut dimaksudkan untuk memastikan letak gangguan/ kelainan.
b. Masalah
1. gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
2. gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
3. nyeri
4. obstruksi jalan nafas
c. Diagnosa
o Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d peningkatan pengeluaran cairan melalui muntah
o Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan intake akibat anoreksia
o Kerusakan pertukaran gas b.d obstruksi jalan nafas
o Gangguan rasa nyaman nyeri b.d iritasi pada saluran pencernaan(faring dan esofagus)
d. Intervensi
Dx : gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d peningkatan pengeluaran cairan melalui muntah
Kriteria Hasil :
o Gejala muntah berhenti
Pada dasarnya, muntah yang tidak disertai gangguan fisiologis tidak memerlukan penanganan khusus. Meskipun demikian, muntah tersebut tidak bisa diabaikan begitu saja. Untuk itu, diperlukan tindakan sebagai berikut :
 Ukur tanda-tanda vital
 Ajarkan pola makan yang benar da hundari makanan yang merangsang serta menimbulkan alergi. Pemberian makan juga harus disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak, dengan memperhatikan menu gizi seimbang, yaitu makanan yang bervariasi dan mengandung serat, protein, vitamin, dan mineral. Protein dan susu sapi,telor, kacang-kacangan, dan ikan laut kadang-kadang menyebabkan alergi. Untuk orang tua harus hati-hati dan bila perlu diganti dengan bahan makanan yang lain.
 Ciptakan suasana tenang dan menyenangkan saat makan. Hindari anak makan sambil berbaring atau tergesa-gesa. Agar saluran cerna mempunyai kesempatan yang cukup untuk mencerna makanan yang masuk.
 Ciptakan hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak. Orang tua yang mengabaikan kehadiran anak menciptakan situasi yang menegangkan. Situasi tersebut merupakan situasi yang tidak menyenangkan bagi anak dan dapat berdampak bagi fisik anak. Oleh karena itu, kasih sayang yang mencukupi dan bimbingan yang bijaksana dari orang tua merupakan hal yang sangat diperlukan.
 Lakukan kolaborasi. Apabila muntah disertai dengan gangguan fisiologis, seperti warna muntah yang kehijauan, muntah secara proyektil, atau gangguan lainnya, segeralah bawa anak ke dokter untuk mendapatkan penanganan secepatnya. Selain itu, pemeriksaan penunjang juga sangat diperlukan.

5. REGURGITASI
 Konsep dasar penyakit
1. Pengertian
Regurgitasi adalah keluarnya kembali sebagian susu yang ditelan melalui mulut dan tanpa paksaan, beberapa saat setelah minum susu ( Depkes RI, 1999).
Regurgitasi merupakan keadaan normal yang sering terjadi pada bayi dengan usia di bawah 6 bulan. Seiring dengan bertambahnya usia diatas 6 bulan, maka regurgitasi semakin jarang dialami oleh anak. Namun, regurgitasi dianggap abnormal apabila terjadi terlalu sering atau hampir setiap saat. Juga kalau terjadinya tidak hanya setelah makan dan minum tapi juga saat tidur. Selain itu juga pada gumoh yang bercampur darah. Gumoh yang seperti ini tentu saja harus mendapat perhatian agar tidak berlanjut menjadi kondisi patologis yang diistilahkan dengan refluks esofagus. Regurgitasi atau gumoh harus dibedakan dengan muntah. Bedanya dengan muntah, gumoh terjadi secara pasif. Artinya, tak ada usaha si bayi untuk mengeluarkan atau memuntahkan makanan atau minumannya (artinya: keluar sendiri). Si bayi ketika gumoh mungkin saja sedang santai dalam gendongan atau dalam keadaan berbaring atau bermain. Sedangkan muntah terjadi secara aktif. Muntah merupakan aksi reflek yang dikoordinasi medula oblongata, sehingga isi lambung dikeluarkan dengan paksa malalui mulut.
2. Penyebab
Ada beberapa penyebab terjadinya regurgitasi, yaitu posisi saat menyusui yang tidak tepat, minum terburu-buru, atau anak sudah kenyang tetapi tetap diberi minum karena orangtuanya khawatir kalau anaknya kekurangan makan. Bayi gumoh sesudah biasanya hanya untuk membersihkan sisa susu dari mulutnya. Gumoh menjadi abnormal bila jumlahnya banyak dan pertambahann berat badan tidak optimal.
 Asuhan keperawatan anak dengan regurgitasi
1. Pengkajian
• Usia, gumoh sering terjadi pada anak dengan usia di bawah 6 bulan.
• Cara dan bahan makanan yang keuar. Hal ini dimaksudkan untuk mengidentifikasiapakah anak mengalami gumoh atau muntah.
• Pola minum yang perlu diperhatikan adalah apakah susu diberikan dengan menggunakan botol, sendok, atau menetek pada ibunya, sudah benarkah cara minumnya, serta berapa jumlah dan cara pemberiannya.
• Suasana saat minum, anak yang tergesa-gesa minumnya mudah mengalami gumoh.
2. Masalah
Resiko refluks gastroesofagus
3. Intervensi
• Perbaiki teknik menyusui. Cara menyusui yang benar adalah mulut bayi menempel pada sebahagian areola dan dagu menempel pada payudara ibu.
• Apabila menggunakan botol, perbaiki cara minumnya. Posisi botol susu diatur sedemikian rupa sehingga susu menutupi seluruh permukaan botol dan dot harus masuk seluruhnya ke dalam mulut bayi.
• Sendawakan bai sesaat setelah minum. Bayi yang selesai minum jangan langsung ditidurkan, tetapi perlu disendawakan terlebih dahulu. Cara menyendawakan bayi :
1. Bayi digendong agak tinggi (posisi berdiri) dengan kepala tersandar pada pundak ibu. Kemudian punggung bayi ditepuk perlahan-lahan sampai terdengar suara bersendawa.
2. Menelungkupkan bayi di pangkuan ibu.lalu, usap/tepuk, punggung bayi sampai terengar suaraa bersendawa.

6. IKTERUS FISIOLOGIS
 Konsep Dasar Penyakit
1. Pengertian
Ikterus fisiologis adalah warna kekuningan pada kulit, yang timbul pada hari ke 2-3 setelah lahir dan tidak mempunyai dasar patologis dan akan menghilang dengan sendirinya pada hari ke10.
2. Penyebab
Penyebaba dari ikterus fisiologis pada bayi adalah karena belum matangnya fungsi hati pada bayi, sementara bayi memiliki jumlah sel darah merah yang lebih besar dari pada orang dewasa, (berdasarkan jumlah sel darah merah janin per Kg berat badan), an umur sel darah merah yang lebih pendek yaitu 40-90 hari dari pada orang dewasa.
Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari hemoglobin yang terlepas saat pemecahan sel darah merah. Hati mengatur jumlah bilirubin tidak terikat dalam peredaran darah atau dikenal dengan bilirubin indirect. Bilirubin indirect ini tidak larut dalam air da hampir seluruhnya terikat dengan albumin(protei plasma)di dalm sirkulasi. Bilirubin tidak terikat ini bisa meninggalkan sistem peredaran darah dan memasuki jaringan ekstravaskuler(seperti: kulit, sklera, mukosa mulut).
Di dalam hati, seharusnya bilirubin indirect inibersenyawa dengan protein y dan z pada sela hati dan dibantu oleh enzim gukorinil transferase untuk menghasilkan bilirubin direct(bilirubin yang larut dalam air. Namun karena fungsi hati bayi yang belum matang, maka kemampuan hati untuk melakukan konjugasi dan ekskresi bilirubin direct kecil. Sehingga sebahagian neonatus mengalami peningkatan bilirubin indirect. Peningkatan kadar bilirubin ini tak melebihi 10mg/dl pada bayi cukup bulan dan 12mg/dl pada bayi kurang bulan, yang terjadi pada hari ke 2-3 dan mencapai puncaknya pada hari ke 5-7, dan kemudian menurun kembali pada hari ke 10-14.
Ikterus fisiologis juga dapat disebabkan oleh pemberian minum yang belum mencukupi. Semakin banyak jumlah pemberian ASI, semakin rendah kadar bilirubin bayi, karena kolostrum adalah laksatif alami yang membantu dalam pengeluaran mekonium. Sebaliknya, jika bayi mendapat asupan ASI yang kurang, maka kadar bilirubin bayi akan semakin tinggi.
3. Tanda Dan Gejala
Tampak warna kekuningan pada kulit dan sklera bayi.
 Asuhan keperawatan Anak Dengan Ikterus Fisiologis
1. Pengkajian
a. Usia anak 2-3 hari. Kadang-kadang timbul pada hari ke 4-5. apabila kekuningan timbul pada usia sebelum 2 hari, maka dicurigai adanya ikterus patologis.
b. Tampak warna kekuningan pada tubuh bayi.
c. Minum belum mencukupi, terutama pada bayi prematur yang refleks hisapnya masih lemah. ASI juga belum keluar terutama pada hari-hari pertama.
d. Riwayat kesehatan. Anak tampak sehat dan tidak terlihat adanya tanda-tanda ikterus patologik dan kelainan lainnya.
e. Pemeriksaan kadar bilirubin. Kadar bilirubin indirect tdak lebih dari 10mg/dl pada bayi atrem, dan tidak lebih dari 12,5 mg/dl pada bayi prematur. Sementara kadar bilirubin direct tidak lebih dari 1mg/dl.
2. Masalah
 Resiko terjadinya ikterik patologis
3. Intervensi
o Bayi dengan ikterik fisiologis sebenarnya tidak memerlukan penanganan khusus karena menghilang dengan sendirinya pada hari ke10.
o Segera berikan ASI unutk merangsang pengeluaran mekonium
o Pemberian minum secara mencukupi sengat diperlukan pada bayi karena dapat membantu hati untuk mengekskresikan bilirubin, oleh karea itu, hindari puasa panjang pada bayi yang baru lahir.

Posted in Tak Berkategori | Leave a comment

SINDROMA NEFROTIK

SYNDROMA NEFROTIK

Pengertian
Sindrom nefrotik adalah gangguan klinis yang ditandai dengan peningkatan protein dalam urine secara bermakna. Penurunan albumin dalam darah,edema,serum kolesterol yang tinggi dan penurunan protein dalam darah

Penyebab
a. Sindrom nefrotik bawaan, diturunkan.
b. Sindrom nefrotik sekunder, disebabkan oleh parasit malaria, penyakit kologen, glomerulonefrotik : 80 – 90 %, penyakit imun sistemik ( lupus ), metabolik (DM), infeksi.

Tanda Dan Gejala
a. Pertama penyakit sering mengikuti sindrom seperti influenza dan bengkak periobital (kelopak mata) terutama bangun tidur.
b. Edema : muka, tungkai, abdomen, mata, vulva dan skrotum.
c. Output urine berkurang atau oliguria.
d. Anoreksia (tidak nafsu makan)
e. Berat badan meningkat
f. Cepat lelah atau malase
g. Diare
h. Mudah infeksi.
i. Sesak nafas.
j. Anemia ringan.
k. Nyeri perut

Perawatan syndroma nefrotik

Diet (Pemberian makanan)
a. Makanan yang boleh diberikan
 Sumber energi
Misalnya : Beras ( nasi biasa atau nasi lunak), jagung, kentang, singkong, ubi, mie, gula, kelapa, makanan yang terbuat dari terigu atau tepung beras ketan.
 Sumber zat pembangun
Misalnya : Daging, ikan, susu,telur, ayam, hati, kacang-kacangan, dan hasil olahannya ; tahu, tempe, kacang hijau.
 Sumber zat pengatur
Misalnya : Semua sayuran segar, buah-buahan seperti papaya, jeruk.
 Bumbu
Misalnya : Semua bumbu dapur, garam dapur dalam jumlah yang sudah ditentukan.
 Minuman
Misalnya : Sari buah, susu bubuk

b. Makanan yang tidak boleh diberikan
 Sumber energi
Misalnya : biskuit, roti, dan kue-kue yang diolah dengan garam dapur, soda kue, vetsin, margarine dan mentega.

 Sumber zat pembangun
Misalnya : Ikan asin, udang kering, telur asin, daging kalengan, dan semua bahan yang diawetkan dengan garam dapur

 Sumber zat pengatur
Misalnya : Sayur asin, acar, sayur dan buah kalengan atau yang diawetkan dengan garam dapur.

 Bumbu
Misalnya : Garam dapur, kecap,tauco, vetsin
 Minuman
Misalnya : minuman yang mengandung soda seperti cola, the, kopi, susu coklat

c. Prinsip utama diet pada syndroma nefrotik
 Diet dengan jumlah kalori yang cukup sesuai dengan umur dan berat badan anak
 Protein/ zat pembangunan tinggi seperti ; daging, telur, ikan
 Jumlah garam dibatasi dan dikurangi sesuai dengan beratnya sembab yang dialami anak
 Makanan disediakan dalam keadaan hangat

Posted in Tak Berkategori | Leave a comment

ASKEP DHF (DENGUE HAEMORAGIC FEVER)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dengue Haemorhagic fever adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yaitu virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Eedes Agypty dan Alborictus. DHF terutama menyerang anak remaja dan dewasa serta seringkali menyebabkan kematian bagi penderita.
Penyakit dengue merupakan penyakit endemik di indonesia tetapi dalam jarak 5-10 tahun dapat timbul letusan epidemi. Dengue pertama kali di Indonesia dicurigai berjangkit di Surabaya pada tahun 1968, tetapi kepastian virologiknya baru diperoleh pada tahun 1970.
Di Indonesia pengaruh musim terhadap demam berdarah dengue tidak begitu jelas, tetapi dalam garis besar dapat dikemukakan bahwa jumlah penderita antara bulan Maret – Mei. Secara keseluruhan tidak terdapat pada bedaan atara jenis kelamin penderita, tetapi kematian ditemukan lebih banyak pada perempuan dari pada laki-laki.
Penderita DHF yang tidak mendapat pengobatan dan perawatan akan menimbulkan dampak seperti perdarahan pada semua organ, ensepalopati dan penurunan kesadaran. Maka dari itu sangat diperlukan peran perawat, untuk memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk mencegah komplikasi yang terjadi.
Melihat fenomena diatas maka kelompok merasa tertarik untuk membahas tentang “Asuhan Keperawatan pada Anak dengan DHF”

B. Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan DHF
b. Tujuan Khusus
– Mampu mengidentifikasi pada klien dengan masalah DHF
– Mampu membuat pengkajian pada anak dengan masalah DHF
– Mampu membuat diagnosa sesuai dengan prioritas masalah pada anak dengan DHF
– Mampu menyusun rencana keperawatan pada klien dengan masalah DHF
– Mampu mengaplikasikan tindakan sesuai dengan rencana yang telah dibuat
– Mampu membuat evaluasi dari asuhan yang telah dilakukan
c. Manfaat Penulisan
Kelompok berharap penulisan makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan dan wawasan tentang bagaimana memberikan asuhan keperawatan pada bagi dengan DHF khususnya bagi bidang keperawatan.

BAB II
TINJAUAN TIORITIS

A. Defenisi
Dengue Haemorragic Fever (DHF) adalah infeksi yang disebabkan oleh arbovirus dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes (Aedes Albopictus dan Aedes Aegypti) (Nelson, 1999).

B. Etiologi
Virus Dengue sejenis arbovirus

C. Patofisiologi
a. Virus dengue akan masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes dan kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus – antibody, dalam sirkulasi akan mengaktivasi sistem komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a, merupakan dua peptide yang berdaya untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangnya plasma melalui endotel dinding itu.
b. Terjadinya trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan faktor koagualasi (protrombin, faktor V, VII, IX, X dan fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat, terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.
c. Untuk menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diatesis hemoragik. Renjatan terjadi secara akut.
d. Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Hilangnya plasma menyebabkan klien mengalami hypovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian.

D. Gejala klinik
a. Demam tinggi mendadak 2-7 hari, disertai muntah atau kejang tanpa sebab yang jelas.
b. Nyeri epigastrium
c. Kesadaran menurun
d. Ptekie, purpura dan echymosis
e. Epistaksis. Perdarahan gusi, hematemiss dan melena
f. Pembesaran hepar
g. Tanpa atau disertai gejala syok. Yang ditandai dengan:
– Nadi lemah, cepat, halus sampai tidak teraba
– TD menurun
– Kulit teraba dingin, lembab pada ujung hidung, jari dan kaki

E. Klasifikasi DHF
a. Derajat I
Demam disertai gejala tidak khas, uji tourniquet positif, trombositopenia dan hemokonsentrasi.
b. Derajat II
Demam disertai gejala klinis lain, uji tourniquet positif, trombositopenia, dan disertai perdarahan spontan dikulit atau perdarahan lain.
c. Derajat III
Kegagalan sirkulasi: Nadi cepat dan lembut, tekanan nadi menurun (hipotensi), kulit dingin, lembab dan gelisah.
d. Derajat IV
Renjatan berat dengan denyut nadi yang tidak dapat diraba dan TD tidak dapat diukur.

F. Penatalaksanaan
a. Minum banyak 1,5-2 liter/24 jam dengan air teh, gula, susu (ASI/PASI)
b. Pemberian cairan melalui infus, dilakukan jika pasien mengalami kesulitan minum dan nilai hematokrit cenderung meningkat
c. Antipiretik jika terdapat demam
d. Antikonvulsan jika terdapat kejang
e. Pemberian antibiotik bila terdapat infeksi
f. Periksa Hb, Ht, Trombosit setiap 6 jam

G. Komplikasi
a. DHF mengakibatkan perdarahan pada semua organ tubuh seperti perdarahan ginjal, Otak, jantung, paru-paru, limpa dan hati karena pembuluh darah mudah rusak dan bocor. Sehingga tubuh kehabisan darah dan cairan, serta menyebabkan kematian.
b. Ensepalopati
c. Gangguan kesdaran dan disertai kejang
d. Disorientasi, prognosa buruk

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
a. Identitas klien
b. Riwayat kesehatan:
 RKS
Biasanya klien mengeluh sakit perut, demam tinggi mendadak, nyeri otot dan sendi, punggung lemah, sakit kepala, menurunnya nafsu makan, perdarahan pada gusi dan hidung, hematemisis, melena, bintik-bintik merah pada kulit, kulit dingin dan lembab serta ujung jari dan hidung dingin.
 RKD
Biasanya klien suka tidur (pagi dan sore hari) atau pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya.
 RKK
Apabila salah seorang anggota keluarga klien pernah menderita DHF.
c. Pengkajian umum
 Tingkat kesadaran : tergantung derajat DHF, ( komposmetis, apatis, samnolen,
 Soporos dan koma )
 Keadaan umum : lemah
 Tanda-tanda vital: – Suhu : meningkat
– Nadi : lemah, cepat dan kecil
– TD : meningkat
– Pernafasan : cepat
d. Pengkajian fisik
1. Kepala:
– Muka tampak merah
– Mata : konyungtiva hiperemis, lakrimasi dan fotofobia
– Hidung : epistaksis
– Mulut : bibir kering, kemungkinan sianosis
– Gigi dan gusi : perdarahan pada gusi
2. Leher : pembesaran kelenjar limfe
3. Dada dan thorak
– Jantung : suara halus dan capillary defil lebih dari 2 detik
– Paru-paru : nafas cepat
4. Abdomen : hepatomegali, splenomegali dan nyeri tekan epigastrium
5. Ekstremitas : dingin, nyeri sendi dan otot
6. Integumen : ptekie, ekimosis, purpura hematoma dan hyperemia
e. Pemeriksaan tumbuh kembang
Adakalanya anak menderita DHF akan mengalami gangguan tumbuh kembang baik perkembangan motorik halus, tidak bergairah maupun perkembangan proses berfikir.
f. Aktivitas sehari-hari
 Makan : nafsu makan berkurang, anoreksia, nausea dan vomitus
 Minum : haus
 Tidur : penurunan pola tidur, gelisah
 Bermain : terganggu
g. Data psikologis
 Psikologis anak
Selama di rumah sakit anak akan merasa tersiksa, karena lingkungan yang asing dan baru bagi dirinya serta takut dengan tindakan pengobatan.
– Psikologis orang tua
Selama anak dirawat di rumah sakit orang tua biasanya merasa cemas dan takut sehingga sering menanyakan tentang keadaan anaknya.
h. Data sosial ekonomi
DHF dapat mengenai semua tingkat ekonomi dan lapisan masyarakat baik tua, muda maupun anak-anak. Data sosoial yakni prilaku masyarakat yang tidak sehat: jarang menguras bak mandi, membuang kaleng disembarang tempat, kain yang bergelantungan dan tingkat pendidikan yang rendah.
i. Data laboratorium
● Trobositopenia : + 100.000/mm
● Nilai hematokrit meningkat 20%
● Hiponatremia
● Hipoproteinemia
● Leukosit bisa normal atau meningkat
● Hb meningkat
● LED meningkat
j. Data penunjang
Photo thorak terdapatnya effusi pleura

Analisa Data
No Data Fokus Etiologi Problem
1 DS :
– Klien sering haus
– Ibu klien mengatakan BAB berdarah
– Ibu klien mengatakan anak sering muntah/kadang berdarah
DO :
– Klien lemah
– Perdaharan
– Oedema
– Bibir kering, diare
– Ht meningkat, TD menurun
Peningkatan permeabilitas kapiler dan perdarahan
Defisit volume cairan dan elektrolit

2 DS :
– Ibu mengatakan klien sulit bernafas
– Ibu mengatakan klien rewel
DO :
– Klien sesak nafas
– Nafas cepat
– Sianosis
– TD menurun
– Gelisah dan rewel
Penumpukan /akumulasi cairan dirongga pleura
Inefektif pola pernafasan
3 DS :
– Ibu mengatakan klien susah untuk makan
– Ibu mengatakan setiap yang dimakan selalu dikeluarkan
DO :
– Klien kelihatan lemah
– Klien tampak mual dan muntah
– BB menurun
– TD menurun
Anoreksia
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
4 DS :
– Ibu mengatakan anak demam
– Ibu mengatakan anak selalu rewel dan gelisah
DO :
– Suhu tubuh meningkat > 38o C
– Leukosit meningkat
– Keringat banyak
– Nafas cepat
– KU lemah
Proses infeksi virus (viremia)
Peningkatan suhu tubuh
5 DS :
– Ibu mengatakan anak selalu rewel dan gelisah
– Ibu mengatakan anak sering menangisi perutnya
DO :
– Anak gelisah dan rewel
– TD menurun
– Banyak berkeringat
– Muntah
Penekanan vena hepatik
Gangguan rasa nyaman, nyeri epigastrium
6 DS :
– Ibu mengatakan akral anak dingin
DO :
– KU lemah
– TD menurun
– Bibit sianois
– Ujung jari, kaki dan ujung hidung terasa tebal
– Nafas cepat dan berat
– Kapilari refil menurun
Perdarahan
Gangguan perfusi jaringan
7 DS :
– Ibu mengatakan takut dengan keadaan anaknya
DO :
– Ibu selalu bertanya – tanya tentang penyakit anaknya
– Ibu tampak cemas
– Ibu gelisah
Kurang informasi tentang penyakit
Ansetas (pada ibu)

8 DO :
– Perdarahan banyak (Hematemasis dan melena)

Kekurangan cairan tubuh, kebocoran plasma
Risiko tinggi terjadinya shock hypovolemik
9 DS :
– Ibu mengatakan anak aktivitas
DO :
– KU lemah
– TD menurun
– Aktivitas dibantu
Anak dibantu kelemahan fisik
Intoleransi aktivitas

B. Diagnosa Keperawatan
1. Defisit volume cairan b/d peningkatan permebilitas, perdarahan
2. Infeksi pola nafas b/d penumpukan/akumulasi cairan dirongga pleura
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d anorexia
4. Peningkatan suhu tubuh (hiperemia) b/d proses infeksi virus (viremia)
5. Gangguan rasa nyaman : nyeri epigastrium b/d penekanan pada vena hepatik
6. Gangguan perfusi jaringan b/d perdarahan
7. Anxietas pada ibu b/d kurangnya informasi rentang penyakit
8. Risiko tinggi terjadinya syhok hipovolemik b/d kekurangan cairan, kebocoran plasma
9. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan fisik

C. Intervensi Keperawatan
Dx.1. Defisit volume cairan dan elektrolit b/d peningkatan permebilitas kapiler. Perdarahan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan volume cairan elektrolit berimbang
KH : – Menunjukkan perbaikan keseimbangan cairan dibuktikan oleh haluaran urine adekuat dengan berat jenis normal
– Tanda vital stabil
– Membran mukosa lembab, turgor baik dan pengisian kapiler cepat
Intervensi
1. Awasi tanda vital : bandingkan dengan hasil normal pasien sebelumnya
Rasional : Perubahan TD dan nadi dapat digunakan untuk perkiraan kasar kehilangan darah
2. Catat respons fisiologis individual pasien terhadap perdarahan misal perubahan mental, kelemahan, gelisah, ansietas, pucat, peningkatan suhu dan berkeringat
Rasional : Simtomotologi dapat berguna dalam mengukur berat/lamanya episode perdarahan, memburuknya gejala dapat menunjukkan perdarahan atau tidak adekuatnya pengertian cairan
3. Ukur CVP bila ada
Rasional : Menunjukkan volume sirkulasi dan respons jantung terhadap perdarahan dan penggantian cairan, misalnya CVP antara 5 dan 20 cm H2O menunjukkan volume adekuat
4. Awasi masukan dan haluaran dan hubungan dengan perubahan berat badan, ukur kehilangan darah/cairan melalui muntah, dan defekasi
5. Pertahankan pencatatan akurat subtotal cairan/darah selama terapi penggantian
Rasional : Potensial kelebihan tranfusi cairan, khsususnya bila volume tambahan diberikan sebelum transfusi darah
6. Pertahankan tirah baring : mencegah muntah dan tegangan saat defekasi
Rasional : Aktivitas/muntah meningkatkan tekanan intra abdominal dan dpat mencetuskan perdarahan lanjut
7. Observasi perdarahan sekunder, misalnya hidung/gusi, perdarahan terus menerus dari area suntikan
Rasional : Kehilangan/tidak adekuatnya penggantian faktor pembekuan dapat mencetuskan terjadinya KID

8. Berikan cairan/darah sesuai indikasi
Rasional : Penggantian cairan tergantung pada derajat hipovolemia dan lamanya perdarahan
9. Darah lengkap segar/kemasan sel darah merah
Rasional : Darah lengkap segar diindikasikan untuk perdarahan akut (dengan syok), karena darah simpanan dapat kekurangan faktor pembekuan
10. Plasma beku segar (FFP) dan/atau trombosit
Rasional : Faktor pembekuan/komponen penipisan oleh 2 mekanisme : kehilangan perdarahan dan proses pembekuan darah
11. Catat intake da ouput
Rasional : Mengukur masukan dan pengeluaran dapat melihat defisit volume cairan yang terjadi
12. Periksa Hb, Ht, Tromb setiap 4-6 jam
Rasional : Melihat perubahan kondisi perdarahan

Dx. 2. Inefektif pola pernafasan b/d akumulasi cairan dirongga pleura
Tujuan : Pola pernafasan efektif kembali
KH : – Menunjukkan pola pernafasan normal /efektif dengan GDA dalam rentang normal
– Bebas sianosis dan tanda /gejala hipoxia
Intervensi
1. Evaluasi fungsi pernafasan, catat kecepatan/pernafasan serat, dispnea terjadinya sianosis dan perubahan tanda vital
Rasional : Distres pernafasan dan perubahan tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stres fisiologi atau dapat menunjukkan terjadinya syok sehubungan dengan perdarahan
2. Awasi kesesuaian pola pernafasan bila menggunakan ventilasi mekanik
Rasional : Kesulitan bernafas dengan ventilator dan peningkatan tekanan jalan nafas diduga memburuknya kondisi/terjadinya komplikasi

3. Kaji pasien adanya area nyeri tekan bila batuk
Rasional : Sokongan terhadap dada dan otot abdominal membuat batuk lebih efektif
4. Taktil premitus
Rasional : Suara dan takfil fremitus (virbra) menurun pada jaringan yang terisi cairan
5. Pertahankan posisi yang nyaman, biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur
Rasional : Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekspansi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit
6. Awasi seri GDA dan nadi oksimetri, kaji kapasitas vital/pengukuran volume tidal
Rasional : Mengkaji status pertukaran gas dan ventilasi, perlu untuk kelanjutan atau gangguan dalam terapi
7. Berikan oksigen tambahan melalui kanula/masker Sesuai indikasi
Rasional : Alat dalam menurunkan kerja nafas meningkatkan penghilangan distres respirasi dan sianosis sehubungan dengan hipoxemia
Dx. 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme, anoreksia
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
KH : – Menunjukkan perilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan/mempertahankan berat badan yang sesuai
– Menunjukkan peningkatan berat badan mencapia tujuan, dengan nilai laboratorium normal dan bebas tanda malnutrisi
Intervensi
1. Awasi pemasukan diet/jumlah kalori, berikan makan sedikit dalam frekuensi sering dan tawarkan makan pagi paling besar
Rasional : Makan banyak sulit untuk mengatasi bila pasien anoreksia, anoreksia juga paling buruk selama siang hari, membuat masukan makanan yang sulit pada sore hari

2. Berikan perawatan mulut sebelum makan
Rasional : Menghilangkan rasa tak enak pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan
3. Anjurkan makan pada posisi duduk tegak
Rasional : Menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan
4. Dorong pemasukan sari jeruk, minuman karbonat dan permen sepanjang hari
Rasional : Bahan ini merupakan ekstra kalori dan dapat mudah dicerna/toleran bila makanan lain tidak
5. Konsul pada ahli diet, dukungan tim nutrisi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan pasien, dengan memasukan lemak dan protein sesuai toleran
Rasional : Berguna dalam membuat program diet untuk memenuhi kebutuhan individu
6. Awasi glukosa darah
Rasional : Hiperglikemia/hipoglikemik dapat terjadi, memerlukan perubahan diet
7. Berikan obat sesuai dengan indikasi
Anti emetic contoh : metalo piramide, trimetobenzamid
Rasional : Diberikan ½ jam sebelum makan, dapat menurunlkan mual dan meningkatkan toleransi pada makanan
Antasida contoh mylanta, titralac
Rasional : Kerja pada asam gaster, dapat menurunkan intake/resiko perdarahan
Dx. 4. Peningkatan suhu tubuh (hiperemia) b/d proses infeksi virus (viremia)
Tujuan : Peningkatan suhu tubuh tidak terjadi
KH : – Suhu tubuh normal (36-370C)
– Klien bebas dari demam
Intervensi
1. Mengkaji saat tumbuhnya demam
Rasional : Untuk mengkaji pola demam klien
2. Mengobservasi tanda vital (suhu, nadi, TD, dan pernafasan) setiap 3 jam/lebih
Rasional : Tanda-tanda vital merupakan acuan untuk keadaan umum pasien
3. Memberikan penjelasan tentang penyebab demam atau peningkatan suhu tubuh
Rasional : Penjelasan tentang kondisi dialami klien dapat membantu klien/keluarga mengurangi kecemasan
4. Memberikan penjelasan pada klien atau keluarga tentang hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi demam dan menganjurkan klien atau keluarga kooperatif
Rasional : Keterlibatan keluarga sangat berarti dalam proses penyembuhan di rumah sakit
5. Menjelaskan pentingnya tirah baring bagi pasien dan akibatnya jika hal tersebut tidak dilakukan
Rasional : Penjelasan yang diberikan pada klien atau keluarga akan memotivasi klien kooperatif
6. Menganjurkan klien untuk banyak minum + 2,5 1/24 jam dan jelaskan manfaat bagi klien
Rasional : Peningkatan suhu tubuh mengakitbatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu imbangi dengan asupan cairan yang banyak
7. Memberikan kompres dingin (pada axila dna lipat paha)
Rasional : Kompres dingin akan membantu menurunkan suhu tubub
8. Menganjurkan untuk tidak memakai selimut dan pakaian yang tebal
Rasional : Pakaian yang tipis akan membantu mengurangi penguapan tubuh
9. Catat asupan dan keluaran
Rasional : Mengetahui adanya ketidakseimbangan cairan tubuh
10. Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai indikasi
Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi klien dengan suhu tinggi pemberian cairan merupakan wewenang dokter sehingga perawat perlu kolaborasi

D. Implementasi
Implementasi merupakan tahap keempat dari proses keperawatan dan merupakan pelaksanaan keperawatan yang direncanakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

E. Evaluasi
Merupakan tahap akhir dari proses keperawatan dan merupakan penilaian terhadap sejauh mana pencapaian tujuan atau kriteria hasil dari implementasi yang telah dilakukan dan pengkajian ulang terhadap rencana keperawatan yang telah dilakukan.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
DHF adalah penyakit yang banyak menyerang anak dan remaja dan sering kali menjadi penyebab kematian. Penderita yang mengalami DHF biasanya menunjukkan gejala klinis seperti panas tinggi 2-7 hari, tampak bintik-bintik merah dikulit. Mulai dari nyeri abdomen pada kondisi yang lebih lanjut seringkali penderita mengalami epistaksis, hematemesis, dan melena serta tak jarang pula penderita sampai mengalami DSS
Tindakan yang harus segera dilakukan agar penderita tidak mengalami kondisi yang lebih buruk (setelah penetapan diagnosis terhadap DHF) yaitu :
1. Isitirahat penderita (tirah baring)
2. Pemberian cairan baik melalui intravena maupun oral
3. Atasi demam dengan pemberian kompres dan obat-obatan antipiretik
Selama masa perawatan perlu dimonitor adanya perdarahan masif dan curiga adanya perdarahan intra abdomen terutama jika pemeriksaan Hb menunjukkan secara dratis dan abdomen tegang. Pada dasarnya pengobatan DHF hanya berupa pengobatan simtomatik dan suportif dimana pengertian cairan merupakan tindakan utama.

B. Saran
1. Diharapkan mahasiswa atau perawat mampu melakukan dan menerapkan proses keperawatan pada anak dengan DHF
2. Agar perawat mampu memberikan asuhan keperawatan secara profesional pada anak dengan DHF

Posted in Tak Berkategori | Leave a comment

ASKEP ANAK GGN BICARA DAN BAHASA

BAB I
PENDAHULUAN

Kemampuan berbahasa membedakan manusia dengan binatang. Orangtua dengan antusias menunggu awal perkembangan bicara anak mereka. Bila anak tidak dapat bicara normal, maka mereka mengira bahwa anak mereka bodoh atau retardasi. Sering orangtua memperkirakan bahwa perkembangan bicara anak diluar normal merupakan suatu hal yang memperkirakan bahwa perkembangan bicara anak diluar normal merupakan suatu hal yang mengkhawatirkan, sehingga membawanya kedokter.
Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak. Karena kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan pada sistem lainnya, sebab melibatkan kemampuan kognitif, sensori motor, psikologis, emosi dan lingkungan disekitar anak. Seorang anak tidak akan mampu berbicara tanpa dukungan dari lingkungannya. Mereka harus mendengar pembicaraan yang berkaitan dengan kehidupannya sehari-hari maupun pengetahuan tentang dunia. Mereka harus belajar mengekspresikan dirinya, membagi pengalamannya dengan oranglain dan mengemukakan keinginannya.
Gangguan bicara merupakan salah satu masalah yang sering terdapat pada anak-anak. Menurut NCHS, berdasarkan atas laporan orangtua (diluar gangguan pendengaran serta celah pada palatum), maka angka kejadiannya adalah 0,9% pada anak dibawah umur 5 tahun dan 1,94% pada anak yang berumur 5-14 tahun. Dari hasil evaluasi langsung terhadap anak usia sekolah, angka kejadiannya 3,8 kali lebih tinggi dari yang berdasarkan hasil wawancara. Berdasarkan hal ini, diperkirakan gangguan bicara dan bahasa pada anak adalah sekitar 4-5%.
Deteksi dini perlu ditegakkan, agar penyebabnya dapat segera dicari, sehingga pengobatan serta pemulihannya dapat dilakukan seawal mungkin. Contohnya, pada seorang anak yang tuli konduksi tetapi cerdas yang terlambat mendapat alat bantu dengar dan terapi wicara, serta tidak diberi kesempatan mengembangkan sistem komunikasi non verbal oleh dirinya sendiri sebelum usia 3 tahun, maka kesempatan untuk mengajarinya agar mampu berbicara yang dapat dimengerti, jelas dan terang telah hilang.

BAB II
KONSEP DASAR
GANGGUAN BICARA DAN BAHASA PADA ANAK

1. PERKEMBANGAN BAHASA NORMAL
Hemisfer kiri merupakan pusat kemampuan berbahasa pada 94% orang dewasa dan lebih dari 75% pada orang dewasa kidal. Pengkhususan hemisfer untuk fungsi bahasa sudah dimulai sejak didalam kandungan, tetapi berfungsi secara sempurna setelah beberapa tahun kemudian. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak dengan kerusakan otak unilateral sebelum maupun sesudah lahir, diperkirakan fungsi berbahasa dapat diprogram oleh hemisfer lainnya, walaupun kelainan yang khusus masih dapat diketemukan dengan tes yang teliti. Kelenturan perkembangan otak seperti ini menyebabkan macam perkembangan bahasa pada anak sukar ditentukan.
Seperti pada orang dewasa terdapat 3 area utama pada hemisfer kiri anak khusus untuk berbahasa, yaitu dibagian anterior (area Broca dan Korteks motorik) dan dibagian posterior (Area Wernicke). Informasi yang berasal dari korteks pendengaran primer dan sekunder diteruskan kebagian korteks temporoparietal posterior (area wernicke), yang dibandingkan dengan ingatan yang sudah disimpan. Kemudian jawaban diformulasikan dan disalurkan oleh fasciculus arcuata kebagian anterior otak dimana jawaban motorik dikoordinasi. Apabila terjadi kelainan pada salah satu dari jalannya impuls ini, maka akan terjadi kelainan bicara. Kerusakan pada bagian posterior akan mengakibatkan kelainan bahasa reseptif, sedangkan kerusakan dibagian anterior akan menyebabkan kelainan bahasa ekspresif.

Perkembangan kemampuan berbicara dan berbahasa pada anak normal (Towne, 1983)
Umur
(Bulan) Bahasa reseptif
(Bahasa pasif) Bahasa ekspresif
(Bahasa aktif)
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

15

18

21

24 Kegiatan anak terhenti akibat suara

Tampak mendengarkan ucapan pembicara, dapat tersenyum pada pembicaraan
Melihat kearah pembicara

Memberi tanggapan berbeda terhadap suara bernada marah/ senang

Bereaksi terhadap panggilan namanya

Mulai mengenal kata-kata “da da, papa, mama”

Mulai mengenal kata-kata naik, kemari, dada

Menghentikan aktivitas bila namanya dipanggil

Menghentikan kegiatan bila dilarang

Secara tepat menirukan variasi suara tinggi

Reaksi atas pertanyaan sederhana dengan melihat atau menoleh

Reaksi dengan melakukan gerakan terhadap berbagai pertanyaan verbal

Mengetahui dan mengenali nama-nama bagian tubuh

Dapat mengetahui dan mengenali gambar-gambar obyek yang sudah akrab dengannya, jika obyek tersebut disebut namanya

Akan mnegikuti petunjuk yang berurutan (ambil topimu dan letakkan di atas meja)

Mengetahui lebih banyak kalimat yang lebih rumit
Vokalisasi yang masih sembarang, terutama huruf hidup.

Tanda-tanda vokal yang menunjukkan perasaan senang, senyum sosial.

Tersenyum sebagai jawaban terhadap pembicara

Jawaban vokal terhadap rangsang sosial

Mulai meniru suara

Protes vokal, berteriak karena kegirangan

Mulai menggunakan suara mirip kata-kata kacau

Menirukan rangkaian suara

Menirukan rangkaian suara

Kata-kata pertama mulai muncul

Kata-kata kacau mulai dapat dimengerti dengan baik

Mengungkapkan kesadaran tentang obyek yang telah akrab dan menyebut namanya

Kata-kata yang benar terdengar diantara kata-kata yang kacau, sering dengan disertai gerakan tubuhnya

Lebih banyak menggunakan kata-kata daripada gerakan, untuk mengungkapkan keinginannya

Mulai mengkombinasikan kata-kata (mobil papa, mama berdiri)

Menyebut nama sendiri
2. ETIOLOGI
Penyebab kelainan berbahasa bermacam-macam yang melibatkan berbagai faktor yang dapat saling mempengaruhi, antara lain kemampuan lingkungan, pendengaran, kognitif, fungsi saraf, emosi psikologis dan lain sebagainya. Seorang anak mungkin kehilangan pendengaran sensoneural dari sedang sampai berat. Sedangkan yang lain mungkin kehilangan pendengaran konduksi berulang, sehingga kemampuan bicara keseluruhannya menurun. Demikian pula suatu gangguan bicara (disfasia) dapat terjadi tanpa adanya cedera otak atau keadaan lainnya. Blager BF (1981) membagi penyebab gangguan bicara dan bahasa adalah sebagai berikut:
Penyebab gangguan bicara dan bahasa pada anak
Penyebab Efek pada perkembangan bicara
1. Lingkungan :
a. sosial ekonomi kurang
b. Tekanan keluarga
c. Keluarga bisu
d. Dirumah menggunakan bahasa bilingual

a. Terlambat
b. Gagap
c. Terlambat pemerolehan bahasa
d. Terlambat pemerolehan struktur bahasa
2.Emosi
a. Ibu yang tertekan
b. Gangguan serius pada orang tua
c. Gangguan serius pada anak
a. Terlambat pemerolehan bahasa
b. Terlambat atau gangguan perkembangan bahasa
c. Terlambat atau gangguan perkembangan bahasa
3.Masalah pendengaran
a. Kongenital
b. Didapat
a. Terlambat/gangguan bicara yang permanen
b. Terlambat/gangguan bicara yang permanen
4.Perkembangan terlambat
a. Perkembangan terlambat
b. Perkembangan lambat, tetapi masih dalam batas rata-rata
c. Retardasi mental
a. Terlambat bicara
b. Terlambat bicara
c. Pasti terlambat bicara
5.Cacat bawaan
a. Palatoschizis
b. Sindrom down
a. Terlambat dan terganggu kemampuan bicaranya
b. Kemampuan bicaranya lebih rendah
6.Kerusakan otak
a. Kelainan neuromuskular
b. Kelainan sesorimotor
c. Palsi serebral
d. Kelainan presepsi
a. Mempengaruhi kemampuan menghisap, menelan, mengunyah, dan akhirnya timbul gangguan bicara dan artikulasi seperti disartria
b. Mempengaruhi kemampuan menghisap dan menelan, akhirnya menimbulkan gangguan artikulasi, seperti dispraksia
c. Berpengaruh pada pernafasan, makan dan timbul juga masalah artikulasi yang dapat mengakibatkan disartria dan dispraksia
d. Kesulitan membedakan suara, mengerti bahasa, simbolisasi, mengenal konsep, akhirnya menimbulkan kesulitan belajar di sekolah

Perkembangan bahasa yang lambat dapat bersifat familial. Oleh karena itu harus dicari dalam keluarganya apakah ada yang mengalami keterlambatan bicara juga. Disamping itu kelainan bicara juga lebih banyak anak laki-laki daripada perempuan. Hal ini karena pada perempuan, maturasi dan perkembangan fungsi verbal hemisfer kiri lebih baik. Sedangkan pada laki-laki perkembangan hemisfer kanan lebih baik, yaitu untuk tugas yang abstrak dan memerlukan keterampilan.
Sedangkan Aram DM {1987), mengatakan gangguan bahwa ganguan bicara pada anak dapat disebabkan oleh kelainan dibawah ini:
1. Lingkungan sosial anak
Interaksi antar personal merupakan dasar dari semua komunikasi dan perkembangan bahasa. Lingkungan yang tidak mendukung akan menyebabkan gangguan bicara dan bahasa pada anak.
2. Sistem masukan/input.
Adalah sistem pendengaran, penglihatan dan integritas taktil-kinestetik dari anak. Pendengaran merupakan alat yang penting dalam perkembangan bicara. Anak dengan otitis mmedia kronis dengan penurunan daya pendengaran akan mengalami keterlambatan kemampuan menerima ataupun mengungkapkan bahasa. Gangguan bicara juga terdapat pada tuli oleh karena kelainan genetik dan metabolik (tuli primer), tuli neurosensorial (infeksi intra uterin: sifilis, rubella, toksoplasmosis, sitomegalovirus), tuli konduksi seperti akibat malformasi telinga luar, tuli sentral (sama sekali tidak dapat mendengar), tuli persepsi/afasia sensorik (Terjadi kegagalan integrasi arti bicara yang didengar menjadi suatu pengertian yang menyeluruh), dan tuli psikis seperti pada skizofrenia, autisme infantil, keadaan cemas dan reaksi psikologis lainnya.
Pola bahasa juga akan terpengaruh pada anak dengan gangguan penglliahtan yang berat, demikian pula dengan anak dengan defisit taktil-kinestetik akan terjadi gangguan artikulasi.
3. Sistem pusat bicara dan bahasa
Kelainan susunan saraf pusat akan mempengaruhi pemahaman, interprestasi, formulasi dan perencanaan bahasa, juga pada aktivitas dan kemampuan intelektual dari anak.
Gangguan komunikasi biasanya merupakan bagian dari retardasi mental, misalnya pada sindrom down.
4. Sistem produksi.
Sistem produksi suara seperti laring, faring, hidung, struktur mulut, dan mekanisme neuromuskular yang berpengaruh terhadap pengaturan nafas untuk bicara, bunyi laring, pembentukan bunyi untuk artikulasibicara melalui aliran udara lewat laring, faring, dan rongga mulut.

3. KLAFIKASI DAN GEJALA
Terdapat bermacam-macam klafikasi disfasia, tergantung dari cara mereka memandang. Kebanyakan sistem klafikasi berdasarkan atas model input-ouput. Beberapa telah didefinisikan dengan menggunakan tes yang telah distandarisasi. Ada yang menggunakan model yang didasari pendengaran ada pula yang berdasarkan patofisiologi terjadinya disfasia.
Klafikasi kelainan bahasa pada anak menurut Rutter (dikutip dari toback C), berdasarkan atas berat ringannya kelainan bahasa sebagai berikut:
Ringan Keterlambatan akuisisi dari bunyi kata-kata, bahasa normal Disfasia
Sedang Keterlambatan lebih berat dari akuisisi bunyi kata-kata dan perkembangan bahasa terlambat Disfasia ekspresif
Berat Keterlambatan lebih berat dari akuisisi dan bahasa, gangguan pemahaman bahasa Disfasia resptif dan tuli persepsi
Sangat berat Gangguan pada seluruh kemampuan bahasa Tuli persepsi dan tuli sentral

Sedangkan Rappin dan Allen (dikutif dari klein,1991) berdasar patofisiologi, membagi kelainan bahasa pada anank menjadi 6 subtipe,yaitu:
1. 2 primer ekspresif:
• Disfraksia verbal
• Ganguan definisit produksi fonologi
2. 2 definisit refresif dan ekspresif:
• Ganguan campuran ekspresif-refresif
• Disfasia verbal auditori agnosia
3. 2 definisit bahasa yang lebih berat:
• Gangguan leksikal-sintaksis
• Ganguan sematik-pragmatik

Anak dengan Disfraksi Verbal (afraksia verbal atau gangguan perkembangan bicara ekspresif) mengerti segala sesuatu yang dikataka padanya, mereka lebih sering menunjuk daripada bicara. Banyak yang mempunyai riwayat prematur, beberapa menderita disfraksia oromotor(anak ini mengeluarkan air liur dan mempunyai kesulitan mengikuti gerakan mulut).jika mereka bicara, lebih banyak menggunakan suara vokal dengan gangguan pengucapan konsonan. Anak –anak ini setelah dewasa menjadi afemia. Anak dengan disfraksia verbal kadang –kadang disertai gangguan tingkah laku (autisme). Rehabilitasi pada anak ini lebih memerlukan terapi wicara yang intensif.
Beberapa anak berbicara dengan kata-kata dan frase yang sulit dimengerti, bahkan pada orang-orang yang selalu kontak dengannya. Sehingga mereka sering marah dan frustasi karena merasa bahwa kata-katanya sulit dimengerti oleh orang disekitarnya. Mereka ini tidak ada gangguan dalam pengertian, tetapi terdapat Gangguan Defisit Produksi Fonologi.
Anak yang bicaranya sulit dipahami yang juga menunjukan adanya gangguan pemahaman terhadap apa yang dikatakan padanya, menunjukkan Gangguan Campuran Ekspresif-Reseptif. Mereka bicara dalam kalimat yang pendek dan banyak dari mereka yang austik. Setelah dewasa mereka menjadi afasia (afasia Brocca), hanya sedikit yang diketahui bagaimana hal ini bisa terjadi.
Beberapa anak mengerti sedikit pada apa yang dikatakan kepadanya, walaupun kadang-kadang mereka mengikuti suatu pembicaraan dengan cara lain, misalnya dengan memperhatikan apa yang dilihatnya. Mereka sangat miskin dalam artikulasi kata-kata. Mereka ini dinamakan Disfasia Verbal Auditori Agnosia. Mereka ini termasuk afasia yang didapat, dimana mereka sebelumnya sering kejang dan kehilangan kemampuan berbicara setelah periode perkembangan bahasa yang normal (sindrom landau kleffner). Pada EEG anak dengan sindrom ini, akan tampak bitemporal spike. Anak dengan disfasia jenis ini, memproses suara yang didengarkan di pusat dengar berbeda dengan anak normal. Stimulasi bahasa akan memperbaiki keadaan, walaupun hasil akhirnya masih belum pasti.
Anak dengan Gangguan Leksikal-Sintaksis mempunyai kesulitan dalam menemukan kata-kata yang tepat khususnya saat bercakap-cakap. Mereka tidak gagap dan menghindar untuk berbicara. Gejalanya seperti orang dewasa dengan afasia konduksi, dimana mereka akan berhenti bicara sebentar untuk menemukan kata-kata yang tepat. Anak ini biasanya orang tuanya akan membantu untuk menemukan kata-kata yang tepat. Anak ini biasanya bicara dengan menggunakan kalimat-kalimat yang pendek untuk umurnya. Terapi bicara akan membantu melatih anak mencari kata-kata yang tepat pada saat bicara, tetapi prognosis selanjutnya masih belum banyak diketahui.
Beberapa anak ada yang bicara lancar dan dapat menggunakan kata-kata yang tepat, tetapi mereka bicara tanpa henti mengenai satu topik. Mereka tidak mengerti tata bahasa. Gejalanya mirip gangguan bicara pada anak dengan hidrosefalus dan oleh Rapin dan Allen disebut Gangguan Sematik Pragmatik. Anak ini pada umumnya menderita gangguan hubungan sosial dan didiagnosis sebagai gangguan perkembangan perfasif. Mereka punya sedikit teman sebaya dan tidak pernah mau belajar aturan permainan dan bicara dari teman sebayanya. Ada baiknya anak ini diajarkan keterampilan berbicara, bahkan diperlukan psikolog dan ahli terapi tingkah laku.
Aram DM (1987) dan Towne (1983), mengatakan bahwa dicurigai adanya gangguan perkembangan kemampuan bahasa pada anak, kalau diketemukan gejala-gejala sebagai berikut:
1. Pada usia 6 bulan anak tidak mampu memalingkan mata serta kepalanya suara yang datang dari belakang atau samping.
2. Pada usia 10 bulan anak tidak memberi reaksi terhadap panggilan namanya sendiri.
3. Pada usia 15 bulan tidak mengerti dan memberi reaksi terhadap kata-kata jangan, da-da, dan sebagainya.
4. Pada usia 18 bulan tidak dapat menyebut 10 kata tunggal.
5. Pada usia 21 bulan tidak memberi realsi terhadap perintah (misalnya duduk, kemari, berdiri).
6. Pada usia 24 bulan tidak bisa menyebut bagian-bagian tubuh.
7. Pada usia 24 bulan belum mampu mengetengahkan ungkapan yang terdiri dari 2 buah kata.
8. Setelah usia 24 bulan hanya mempunyai perbendaharaan kata yang sangat sedikit/tidak mempunyai kata-kata huruf z pada frase.
9. Pada usia 30 bulan ucapannya tidak dapat dimengerti oleh anggota keluarga.
10. Pada usia 36 bulan belum dapat mempergunakan kalimat-kalimat sederhana.
11. Pada usia 36 bulan tidak bisa bertanya dengan menggunakan kalimat tanya yang sederhana.
12. Pada usia 36 bulan ucapannya tidak dapat dimengerti oleh orang diluar keluarganya.
13. Pada usia 3,5 tahun selalu gagal untuk menyebutkan kata akhir (ca untuk cat, ba untuk ban, dan lain-lainnya).
14. Setelah usia 4 tahun tidak bisa bicara/gagap.
15. Setelah usia 7 tahun masih ada kesalahan ucapan.
16. Pada usia berapa saja terdapat hipernasalitas atau hiponasalitas yang nyata atau mempunyai suara yang monoton tanpa henti, sangat keras dan tidak dapat didengar.serta terus menerus memperdangarkan suara yang serak.

4. DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Pengambilan anmnesis harus mencakup uraian mengenai perkembangan bahasa anak. Autisme setelah berumur 18 bulan dan bicara yang sulit dimengerti setelah berumur 3 tahun, paling sering ditemukan. Dokter anak harus curiga bila orang tua melaporkan bahwa anaknya tidak dapat menggunakan kata-kata yang berarti pada umur 18 bulan atau belum mengucapkan prase pada umur 2 tahun. Atau anak memakai bahasa yang singkat untuk menyampaikan maksudnya.
Kecurigaan adanya gangguan tingkah laku perlu dipertimbangkan kalau dijumpai gangguan bicara dan tingkah laku yang bersamaan. Kesulitan tidur dan makan sering dieluhkan orangtua pada awal gangguan autisme. Pertanyaan bagaimana anak bermain dengan temannya dapat membantu mengungkap tabir tingkah laku. Anak dengan autisme lebih senang bermain dengan huruf balok atau megnetik dalam waktu yang lama. Mereka dapat saja bermain dengan anak sebaya, tetapi dalam waktu singkat menarik diri.

2. Instrumen Penyaring
Selain anamnesis yang teliti, disarankan digunakan insrumen penyaring untuk menilai gangguan perkembangan bahasa. Misalnya Early Language Milestone Scale (Coplan dan Gleason), atau DDST (pada Denver II penilaian pada sektor bahasa lebih banyak daripada DDST yang lama) atau Resptive- Expresive Emergent Language Scale. Early Language Milestone Scale cukup sensitif dan sfesifik untuk mengidentifikasikan gangguan bicara pada anak kurang dari 3 tahun.

3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dapat digunakan untuk mengungkapkan penyebab lain dari gangguan bahasa. Apakah ada mikrosefali, anomali telinga luar, otitis media yang berulang, sindrom William (fasien Elvin, perawakan pendek, kelainan jantung, langkah yang tidak mantap), celah palatum, dan lain-lain.
Gangguan oromotor dapat diperiksa dengan menyuruh anak menirukan gerakan mengunyah, menjulurkan lidah dan menggulung suku kata PA, TA, PA-TA, PA-TA-KA. Gangguan oromotor terdapat pada verbal apraksia.

4. Pengamatan Saat Bermain
Mengamati saat anak bermain dengan alat permainan yang sesuai dengan umurnya, sangat membantu dalam mengidentifikasi gangguan tingkah laku. Idealnya pemeriksa juga bermain dengan anak tersebut dan kemudian mengamati orang tuanya saat bermain dengan anaknya. Tetapi ini tidak praktis dilakukan pada ruangan ruangan yang ramai. Pengamatan anak saat bermain sendiri, selama pengambilan anamnesia dengan orang tuanya, lebih muda pemeriksaan. Anak yang memperlakukan mainannya sebagai objek saja atau hanya sebagai satu titik pusat perhatian saja, dapat merupakan petunjuk adanya kelainan tingkah laku.

5. Pemeriksaan Laboratorium
Semua anak dengan gangguan bahasa harus dilakukan tes pendengaran. Jika anak tidak kooperatif terhadap audiogram atau hasilnya mencurigakan maka perlu dilakukan pemeriksaan “auditory brainstem response”.
Pemeriksaan laboratorim lainnya dimaksudkan untuk membuat diagnosis banding. Bila terdapat gangguan pertumbuhan, mikrosefali, terdapat gejala-gejala dari suatu sindrom perlu dilakukan CT-scan atau MRI, untuk mengetahui adanya malformasi. Pada anak laki-laki dengan autismedan perkembangan yang sangat lambat, skrining kromosom untuk fragil-X mungkin diperlukan. Skrining terhadap penyakit-penyakit metabolik baru dilakukan kalau terdapat kecurigaan ke arah itu, karena pemeriksaan ini sangat mahal.

6. Konsultasi
Pemeriksaan dari psikologi/neuropisikiater anak diperlukan jika ada gangguan bahasa dan tingkah laku. Pemeriksaan ini meliputi riwayat dan tes bahasa, kemampuan kognitif dan tingkah laku. Tes intelegesia dapat dipakai sebagai perbandingan fungsi kognitif anak tersebut. Masalah tingkah laku dapat diperiksa lebih lanjut dengan menggunakan instrumen seperti Vineland Social daptive Scale Revised, Child Behavior Checklist, atau Chilhood Autism Rating Scale. Konsultasi ke psikiater anak dilakukan bila ada gangguan tingkah laku yang berat.
Ahli patologi wicara akan mengevaluasi cara pengobatan anak dengan gangguan tinkah bicara. Anak akan diperiksa apakah ada masalah anatomi yang mempengaruhi produksi suara.

PENATALAKSANAAN

Deteksi dan penanganan dini pada problem bicara dan bahasa pada anak, akan membantu anak dan orang tua untuk menghindari atau memperkecil kelainan pada masa sekolah (lihat tabel 18.4).

PROGNOSIS

Prognosis gangguan bicara pada anak tergantung pada penyebabnya. Dengan perbaikan masalah medis seprti tuli konduksi dapat menghasilkan perkembangan bahasa yang normal pada anak yang tidak retardasi mental. Sedangkan perkembangan bahasa dan kognitif pada anak dengan gangguan pendengaran sensoris bervariasi. Dikataka anak dengan gangguan fonologi biasanya frognosisnya lebih baik. Sedangkan gangguan bicara pada anak yang intelegesinya normal perkembangannya bahasanya lebih baik daripada anak yang retardasi mental. Tetapi pada anak dengan gangguan yang multipe, terutama dengan ganggua pemahaman, gangguan bicara ekspresif, atau kemampuan naratif yang tidak berkembang pada usia 4 tahun, mempunyai gangguan bahasa yang menetap pada umur 5,5 tahun.
Tabel 18.4: Penatalaksanaan kelainan bicara dan bahasa (Blager BF, 1981)
Masalah Penatalaksanaan Rujukan
1. Lingkungan
a. Sos.eko rendah
b. Tekanan keluarga
c. Keluarga bisu
d. Bahasa bilingual
a. Meningkatkan stimulasi
b. Mengurangi tekanan
c. Meningkatkan stimulasi
d. Menyederhanakan masukan bahasa
a. Kelompok BKB (bina keluarga dan balita) atau kelompok bermain
b. Konseling keluarga
c. Kelompok BKB/bermain
d. Ahli terapi wicara
2. Emosi
a. Ibu yang tertekan
b. Gangguan serius pada keluarga
c. Gangguan serius
a. Meningkatkan stimulasi
b. Mengstabilkan lingkunga emosi
c. Meningkatkan status emosi anak
a. Konseling, kelompok BKB/bermain
b. Psikoterapi
c. Psikoterapi
3. Masalah pendengaran
a. Kongenital

b. Didapat
a. Monitor dan obati kalau memungkinkan
b. Monitor dan obati kalau mungkin

a. Audiologist/Ahli THT

b. Audiologist/Ahli THT
4. Perkembangan lambat
a. Dibawah rata-rata
b. Perkembangan terlambat
c. Retardasi mental
a. Tingkat stimulasi
b. Tingkat stimulasi

c. Maksimalkan potensi
a. Ahli terapi wicara
b. Ahli terapi wicara

c. Program khusus
5. Cacat bawaan
a. Palatum Sumbing
b. Sindrom Down
a. Monitor dan dioperasi
b. Monitor dan stimulasi
a. Ahli terapi setelah operasi
b. Rujuk ke ahli terapi wicara, SLB-C, monitor pendengarannya

6. Kerusakan otak
a. Kerusakan neuromuskular

b. Sensorimotor

c. Palsi serebralis

d. Masalah persepsi

a. Mengatasi masalah makan dan meningkatkan kemampuan bicara anak
b. Mengatasi masalah makan dan meningkatkan kemampuan bicara anak
c. Mengoptimalkan kemampuan fisik kognitif dan bicara anak
d. Mengatasi masalah keterlambatan bicara

a. Rujuk ke ahli terapi kerja, ahli gizi, ahli patologi wicara

b. Rujuk ke ahli terapi kerja, ahli gizi, ahli terapi wicara

c. Rujuk ke ahli rehabilitasi, ahli terapi wicara
d. Rujuk ke ahli patologi wicara, kelompok BKB

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA ANAK DENGAN GANGGUAN BICARA DAN BAHASA
Pengkajian
Karakteristik perkembangan utama bahasa dan bicara
Usia
( Tahun ) Perkembangan bahasa normal Perkembangan bicara normal Kejelasan
1

2

3

4 – 5

5 – 6

Mengatakan dua sampai tiga kata-kata dengan arti,
Meniru bunyi-bunyi binatang.

Menggunakan frase dua atau tiga kata
Mempunyai perbendaharaan kata kira-kira 300 kata
Menggunakan ‘saya’, ‘aku’,’kamu’

Mengatakan empat sampai kalimat lima kata
Mempunyai perbendaharaan kata kira-kira 900 kata
Menggunakan ‘siapa’, ’apa’, dan ‘dimana’ dalam mengajukan pertanyaan
Menggunakan kata majemuk, kata ganti, dan preposisi
Mempunyai perbendaharaan kata 1500 sampai 2100 kata
Mampu menggunakan bentuk gramatik dengan benar seperti kalimat masa lampau dari kata kerja “kemarin”
Menggunakan kalimat lengkap dengan kata benda, kata kerja, preposisi, kata sifat,kata keterangan dan penghubung
Mempunyai perbendaharaan kata 3000 kata, memahami “jika”,”karena” dan “mengapa” Mengabaikan hampir semua konsonan akhir dan beberapa konsonan awal
Mengganti konsonan “m”,”w”,”p”,”b”,”k”,”g”, ”n”,”t”,”d”dan “h’ dengan bunyi-bunyi yang lebih sulit.

Menggunakan konsonan diatas dengan huruf hidup, tetapi secara tidak konsisten dan dengan banyak penggantian
Pengabaian konsonan akhir
Keterlambatan artikulasi dibelakang p’bendaharaan kata
Menguasai ‘b’,’t’,’d’,’k’ dan ‘g’; bunyi ‘r’ dan ‘L’ mungkin masih tidak jelas, mengabaikan atau menambahkan ‘w’
Pengulangan dan keragu-raguan umum terjadi.

Menguasai “f” dan “v”; mungkin masih tidak jelas “r”, “l”; “s”, “z”, “ch”,”y” dan “th”
Sedikit atau tidak ada pengabaian dari konsonan awal atau akhir

Menguasai “r’, “l” dan “th”; pada “s”, “z”, “sh”, dan “j” (biasanya dikuasai pd usia 7 ½ tahun sampai 8 tahun) Biasanya tidak lebih dari 25% kejelasan untuk pendengar yang tidak dikenal
Ketinggian bahasa tertentu yang tidak jelas pada usia 18 bulan
Pada usia 2 tahun, kejelasan 50% dalam konteks

Pada usia 3 tahun, kejelasan 75%

Bicara jelas 100%, meskipun beberapa bunyi masih tidak sempurna
Pengkajian kerusakan komunikasi
Pertanyaan kunci untuk gangguan bahasa
1. Berapa usia anak anda saat mulai mengucapkan kata-kata pertamanya?
2. Berapa usia anak anda saat mulai menempatkan kata-kata didalam kalimat?
3. Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam mempelajari kata baru?
4. Apakah anak anda mengabaikan kata-kata dari kalimat (mis; apakah kalimat tersebut berbunyi seperti telegrafik?) atau menggunakan kalimat singkat atau tidak lengkap?
5. Apakah anak anda mempunyai masalah dengan tata bahasa seperti tata kerja?
6. Dapatkah anak anda mengikuti dua sampai tiga petunjuk yang diberikan sekaligus?
7. Apakah anda harus mengulang petunjuk atau pertanyaan?
8. Apakah anak anda berespons dengan tepat terhadap pertanyaan?
9. Apakah anak anda mengajukan pertanyaan yang dimulai dengan siapa, apa, dimana, dan mengapa?
10. Apakah hal itu bahwa anak anda telah membuat sedikit atau tidak ada kemajuan dalam bicara dan bahasa dalam 6 sampai 12 bulan yang lalu?

Pertanyaan kunci untuk kerusakan bicara
1. Apakah anak anda pernah gagap atau mengulang bunyi atau kata-kata?
2. Apakah anak anda kelihatan cemas atau frustasi bila mencoba untuk mengekspresikan ide?
3. Pernahkah anda memperhatikan perilaku anak anda seperti mengedipkan mata, menegakkan kepala, atau berusaha untuk mengungkapkan pikiran dengan kata-kata yang berbeda bila ia gagap?
4. Apakah yang anda lakukan bila hal ini terjadi?
5. Apakah anak anda mengabaikan bunyi dari kata-kata?
6. Apakah hal tersebut tampak seperti anak anda menggunakan t, d, k, atau g ditempat hampir semua konsonan yang lain?
7. Apakah anak anda mengabaikan bunyi dari kata-kata atau menambahkan konsonan yang benar dengan konsonan lain (seperti rabbit dengan wabbit)
8. Apakah anda mengalami kesulitan dalam memahami bicara anaka anda?
9. Adakah orang lain yang pernah menunjukkan tentang adanya kesulitan dalam memahami anak anda?
10. Adakah perubahan terbaru dalam bunyi suara anak anda?

Petunjuk untuk mendeteksi kerusakan komunikasi
Ketidakmampuan bahasa
Memberikan arti pada kata-kata
• Kata pertama tidak diucapkan sebelum tiga tahun
• Ukuran perbendaharaan kata berkurang sesuai usia atau gagal menunjukkan peningkatan
• Kesulitan dalam menggambarkan karakteristik objek, meskipun mungkin mampu menyebutkan namanya
• Jarang menggunakan kata ganti (sifat, keterangan)
• Terlalu banyak menggunakan jargon 18 bulan terakhir

Mengatur kata-kata ke dalam kalimat
• Kalimat pertama tidak diucapkan sebelum tiga tahun
• Kalimat pendek dan tidak lengkap
• Kecenderungan untuk mengabaikan kata-kata (artikel, preposisi)
• Kesalahan penggunaan bentuk kata kerja
• Kesulitan memahami dan menghasilkan pertanyaan
• Masa stabil pada tingkat perkembangan awal; menggunakan pola bicara yang mudah

Mengubah bentuk kata-kata
• Menghilangkan akhir untuk kalimat majemuk dan keterangan waktu
• Penggunaan akhir kalimat majemuk dan keterangan waktu yang tidak tepat
• Ketidakakuratan penggunaan kata-kata kepemilikan

Kerusakan bicara
Ketidakfasihan (gagap)
• Pengulangan bunyi, kata-kata, atau frase yang dapat terlihat setelah usia 4 tahun
• Frustasi bila berusaha untuk berkomunikasi
• Menunjukkan perilaku berjuang saat berbicara (kepala tegak, mata berkedip, mencoba terus, atau pemakaian kata terlalu banyak dan tidak perlu)
• Malu tentang bicaranya sendiri

Defisiensi artikulasi
• Kejelasan dari bicara percakapan tidak ada pada usia 3 tahun
• Penghilangan konsonan di awal kata pada usia 3 tahun dan di akhir kata pada usia 4 tahun
• Kesalahan artikulasi yangmenetap setelah usia 7 tahun
• Pengabaian bunyi dimana salah satu harus terjadi
• Distorsi bunyi
• Penambahan bunyi an yang tidak tepat pada bunyi yang benar

Gangguan suara
• Deviasi pada nada (terlaku tinggi atau terlalu rendah, khususnya untuk usia jenis kelamin); monoton
• Deviasi dalam kekerasan suara
• Deviasi dalam kualitas (hipernasalitas atau hiponasalitas)

Pedoman Rujukan Mengenai Kerusakan Komunikasi
Usia Temuan Pengkajian
2 tahun

3 tahun

5 tahun

Usia sekolah

Umum
Gagal untuk berbicara kata-kata bermakna secara spontan
Penggunaan sikap tubuh yang konsisten bukan vokalisasi
Kesulitan dalam mengikuti petunjuk verbal
Gagal untuk berespon secara konsisten terhadap bunyi

Bicara sangat tidak jelas
Gagal untuk menggunakan kalimat dari tiga kata-kata/ lebih
Sering mengabaikan konsonan awal
Penggunaan huruf hidup bukan konsonan

Gagap atau jenis ketidakfasihan yang lain
Struktur kalimat secara nyata terganggu
Mengganti suara-suara yang mudah dihasilkan dengan bunyi-bunyi yang sulit
Menghilangkan ujung kata (jamak, kalimat kerja dsb)

Kualitas suara buruk (monoton, keras/ hampir tidak terdengar)
Nada suara tidak jelas untuk usianya
Adanya distorsi, pengabaian, atau penambahan bunyi setelah usia 7 tahun
Bicara yang berhubungan dicirikan dengan penggunaan konfusi yang tidak biasa atau kebalikan

Ada anak dengan tanda-tanda yang menunjukkan kerusakan pendengaran
Ada anak yang malu atau terganggu oleh bicaranya sendiri
Orangtua yang perhatiannya terlalu berlebihan atau yang terlalu menekan anak untuk bicara pada tingkat diatas usia yang seharusnya.

Denver Articulation Screening Examination
The Denver Articulation Screening Examination (DASE) (Gbr.1-59) dirancang untuk secara nyata membedakan antara keterlamabatan perkembangan yang signifikan dan variasi normal dalam kemahiran bunyi bicara pada anak dari 2 ½ sampai 6 tahun. Pemeriksaan ini menggunakan metode imitatifuntuk mengkaji bunyi suara. Pedoman umum mencakup hal berikut:
1. Katakan pada anak untuk mengulangi kata, seperti car, beri beberapa contoh pada anak untuk memastikan pemahaman. Dimulai dengan kata pertama tabel, minta anak mengulang seluruh 22 kata setelah anda. Nilai pengucapan anak pada bunyi digarisbawahi atau campurkan dalam setiap kata. (Ada 30 elemen bunyi artikulasi untuk pengujian).
2. Bila anak merasa malu atau sulit untuk diuji, gunakan gambar garis sederhana untuk menggambarkan setiap kata.
3. untuk menentukan hasil tes, cocokan skor kasar (angka dari bunyi yang benar) dengan kolom yang menunjukkan usia anak. Anak dianggap menjadi usia sebelumnya yang paling dekat seperti yang ditunjukkan pada grafik barisan persentil. Barisan persentil anak adalah pada titik dimana garis dan kolom bertemu. Persentil diatas garis tebal adalah abnormal dan dibawahnya adalah normal.
4. Nilai bicara spontan anak dalam istilah kejelasan:
a. Mudah untuk dipahami
b. Tidak dapat dipahami setengah waktu
c. Tidak dapat dipahami
d. Tidak dapat dievaluasi (bila anak tidak bicara dalam kalimat atau frase selama wawancara)
5. Nilai hasil total tes anak sebagai berikut:
a. Normal, normal pada DASE dan kejelasan
b. Abnormal, abnormal pada DASE dan/atau kejelasan
6. Uji ulang anak dengan hasil yang abnormal dalam 2 minggu

Posted in Tak Berkategori | Leave a comment

DHF. PPT

powerpoin dhf

Posted in Tak Berkategori | Leave a comment

ASKEP NIC NOC

NO DIAGNOSA INTERVENSI 1 Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d • Akumulasi sekret • Spasme jalan nafas Data : – Batuk – Sekret – Dyspneu – Sianosis – RR menigkat – Ronkhi – Wheezing a. Manajemen Jalan Nafas :  … Continue reading

Gallery | Leave a comment