MENGAJAR BERPIKIR KRITIS SERTA MEMBANGUN HARGA DIRI ANAK SEJAK DINI”

ISI Menurut Lipsitt (1969) manusia yang baru lahir merupakan organisme dengan kemampuan belajar efisien. Tahun-tahun awal dalam kehidupan manusia adalah masa belajar intensif yang amat banyak membuahkan hasil. Perolehan bahasa, pengetahuan tentang berbagai benda dan pengenalan kehidupan sosial terjadi pesat dalam masa lima tahun pertama. 1. Pentingnya pendidikan anak sejak dini Pendidikan yang dapat diberikan pada anak sejak lahir sangat sederhana, seperti mengajak bicara, memperkenalkan barang dan orang-orang yang ada dilingkungan sekitar. Hal-hal tersebut merupakan stimulus yang dapat diberikan untuk merangsang perkembangan anak. Stimulus merupakan perangsangan yang dating dari lingkungan luar individu anak, seperti orangtua dan lingkungan. Semakin banyak anak mendapat stimulus semakin cepat ia belajar dan berkembang. Hal yang perlu diperhatikan bagi orangtua ialah ada atau tidaknya stimulus yang diberikan kepada anak serta bagus tidaknya stimulus yang diberikan. Ketika stimulus yang diberikan kepada anak bagus, maka anak dapat belajar dan berkembang dengan optimal. Dan ketika stimulus yang diberikan tidak baik, maka anak tidak dapat belajar dan berkembang dengan optimal, apalagi jika stimulus tidak diberikan sama sekali, maka anak tidak dapat belajar dan berkembang dengan baik. Bower (1989) menjelaskan—dalam bukunya, Rational Infant—bahwa bayi dalam ’tahap infansi’ sudah dapat berpikir logis. Diperkuat oleh data dari Monnier (1981) yang menunjukkan bahwa bayi berusia sekitar satu tahun dapat menggunakan kalkulus logis secara formal seperti anak usia remaja akhir. Artinya, kemampuan berpikir sudah ada pada manusia sejak tahun pertama kehidupan. 2. Cara Mengajar Anak Berpikir Kritis Dalam Berbagai Area: Seni Bahasa, Matematika, Ilmu Pengetahuan, Dan Ilmu Sosial Anak usia 4-6 tahun dapat diajar berpikir kritis pada berbagai area: seni bahasa, matematika, ilmu pengetahuan dan ilmu social. Dahulu teknik pendidikan yang diberikan pada anak adalah dengan memberi dan anak hanya menerima segala informasi yang diberikan tanpa dituntut untuk memecahkan masalah. Hal ini sangat tidak efektif utnuk memacu kreativitas dan kemampuan anak untuk berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis dapat membantu anak membuat keputusan yang tepat berdasarkan usaha yang cermat, sistematis, logis, dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang. Bukan hanya mengajar kemampuan yang perlu dilakukan, tetapi juga mengajar sifat, sikap, nilai, dan karakter yang menunjang berpikir kritis. Banyak orangtua belakangan ini memiliki ketakutan anaknya akan terpengaruh oleh banyak hal negatif. Teknologi informasi yang berkembang pesat melahirkan jutaan informasi setiap hari, yang sebagian besar mengandung informasi yang mungkin berpengaruh buruk terhadap diri anak. Ketakutan ini beralasan. Namun, tidak mungkin dan tidak bijaksana mengisolasi anak-anak dari berbagai informasi, seperti mengurung anak di dalam rumah, melarang anak bersosialisasi dengan lingkungan, dan melarang anak untuk menanyakan hal-hal yang ingin diketahuinya. Hal yang perlu dilakukan untuk melindungi anak dari berbagai pengaruh buruk adalah dengan membangun kemampuan pengolahan informasi yang memadai, serta menjadikan mereka sebagai orang yang mampu mencermati dan memilih informasi yang baik bagi dirinya. Mendidik mereka berpikir kritis dapat membantu orangtua untuk menghindarkan anak dari kemungkinan menggunakan informasi yang tidak tepat. Mendidik anak berpikir kritis akan membantu anak untuk secara aktif membangun pertahanan diri terhadap serangan informasi di sekelilingnya. Melatih anak berpikir kritis sejak muda memang dimungkinkan, tentu saja dengan mempertimbangkan tahap perkembangannya. Hal itu dapat dilakukan dengan mempersiapkan kurikulum pendidikan yang berdasarkan berpikir kritis. Paul (1994) mengusulkan strategi pengajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir dialogis dan dialektikal. a. Anak dapat mulai diajarkan keterampilan observasi dasar, seperti mengamati kelompok untuk mencari tahu apa yang membuat kelompok terbentuk. Lewat pengamatan, anak juga dapat diajak memahami apa itu bunyi, udara, air, cahaya, suhu, tanah, serta berbagai kayu dan logam. Dalam melakukan observasi anak dapat diperlengkapi dengan alat bantu seperti kaca pembesar, alat pengukur suhu dan sebagainya. Mereka dapat diberi tugas yang derajat kesulitannya bervariasi: dari mulai mencocokkan nama yang terdapat dalam daftar dengan stimulus tertentu (teman, bunyi, cahaya, dan lain-lain) yang ditampilkan oleh fasilitator, sampai ke menjelaskan karakteristik dari hal yang diamatinya, bahkan menjelaskan hubungan hal-hal itu dengan manusia. b. Anak juga dapat belajar berpikir kritis dari pengandaian-pengandaian. Anak diminta mengandaikan kejadian yang mungkin terjadi meskipun belum pernah terjadi dalam keseharian mereka. Misalnya mereka diminta untuk membayangkan apa yang terjadi jika tidak ada air, atau bayangkan jika tak ada cahaya. c. Anak juga dapat diajak untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru. Contohnya, minta anak untuk mencari cara lain untuk menulis selain menggunakan ballpoint atau pensil. Atau anak diminta mencari kegunaan lain dari suatu benda. d. Anak dapat diajarkan untuk menemukan kesalahan-kesalahan dari keseharian dengan menggunakan gambar. Contoh: kepada anak ditunjukkan benda tertentu yang kurang lengkap, lalu minta mereka menemukan lima kesalahan dari gambar itu. Atau kepada anak ditunjukkan gambar orang membuang sampah dan ditanya apa yang salah dengan orang dalam gambar itu, mengapa salah dan bagaimana seharusnya. Untuk stimulus yang lebih kompleks dapat digunakan rangkaian gambar yang memuat beberapa kesalahan, lalu anak diminta menemukan kesalahan dalam rangkaian gambar itu. Contoh: tunjukkan serangkaian gambar yang memuat dua atau lebih anak yang berselisih dan menyelesaikan perselisihan dengan berkelahi, lalu tanya kepada mereka apa yang salah dari perilaku anak-anak dalam rangkaian gambar itu. Di sini dapat juga digunakan rangkaian gambar kecelakaan. Misalnya gambaran orang kecelakaan tabrakan sepeda atau orang terkena strum. Jawaban-jawaban anak dapat menjadi bahan diskusi yang merangsang anak untuk berpikir kritis. e. Anak juga dapat diajak untuk mendengarkan musik-musik tertentu yang dapat menstimulasi perkembangan anak, seperti: 1) Meningkatkan kemampuan komunikasi anak 2) Sebagai pembelajaran pada anak usia pra sekolah untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, berpikir logis, emosional, seni musik 3) Menstimulasi kemampuan motorik anak, karena akan merangsang otak untuk menerima sinyal dari otot, kulit, dan persendian. 4) Meningkatkan kemampuan anak untuk membangun hubungan social dengan melibatkan perilaku emosional, social, dan intelektualnya Penting untuk diperhatikan, jangan memaksa anak untuk berpikir keras di luar kemampuan dan minatnya. Anak yang merasa dipaksa akan cenderung pasif dan menghindar dari kegiatan berpikir. Akibatnya anak cenderung negativistik. Penting juga membiasakan anak mencari tahu sendiri dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat. Jika anak terlalu cepat diberi tahu, ia cenderung pasif dan menerima begitu saja segala sesuatu. Anak yang sering dilarang akan berkembang menjadi anak yang takut membuat keputusan sehingga cenderung pasif dan dependen. 3. Pentingnya pemenuhan kebutuhan harga diri pada anak Seperti telah dijelaskan pada poin 2 di atas, berbagai upaya dapat dilakukan untuk meningkatkan harga diri anak, baik itu melalui pembelajaran matematika, biologi, seni dan ilmu pengetahuan lainnya. Ketika anak diberikan reinforcement positif terhadap aktivitas yang mampu ia lakukan dan memunculkan pikiran kritisnya, tindakan ini dapat meningkatkan harga diri anak. Sebaliknya, ketika diberikan reinforcement negative atau anak tidak dipuji, hal ini dapat menurunkan harga diri anak, yang nantinya akan membuat anak tidak percaya diri dan membuat anak merasa tidak nyaman ketika berada di keluarganya. Ketika anak tidak mampu melakukan suatu aktivitas dan ia dibantu oleh keluarga untuk menyelesaikan kegiatan tersebut yang merangsang pemikiran kritisnya, hal ini dapat meningkatkan harga diri anak, meningkatkan motivasinya untuk belajar, bahkan dapat meningkatkan kedekatan antara keluarga dan anak. Ketika anak tidak mampu dan tidak dibantu oleh keluarga maka harga diri anak akan menurun bahkan tidak ada serta mengakibatkan anak terisolasi dari lingkungan keluarga dan masyarakat. d. Kiat – kiat meningkatkan harga diri anak Hal-hal yang perlu dilakukan : 1. Cintailah anak apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tunjukkanlah kepada mereka bahwa anda mencintainya. 2. Berhati-hatilah dengan perkataan anda, orangtua adalah manusia yang tentunya juga bisa khilaf saat marah, namun berusahalah untuk selalu menjaga perkataan anda, karena terkadang kata-kata yang menjatuhkan bisa membekas di hati mereka. 3. Berilah pujian atas keberhasilan mereka. 4. Dengarkan lah cerita mereka, berikan simpati atas masalah yang mereka hadapi. 5. Berikan dorongan kepada mereka untuk berpikir sendiri dan melakukan hal-hal yang mereka senangi. 6. Berikan kesempatan untuk mereka melakukan hal-hal yang baru, jangan tergesa-gesa menawarkan bantuan. 7. Luangkan waktu untuk bersama mereka, sekedar bersantai dan bermain, atau bertukar cerita. 8. Berilah mereka tanggung jawab sesuai dengan umurnya. 9. Ajari mereka bertanggung jawab atas perbuatannya, misalnya meminta maaf pada teman saat melakukan kesalahan. Hal-hal yang harus dihindari : 1. Jangan hanya mencintainya pada saat dia melakukan hal-hal yang sesuai keinginan anda. 2. Jangan membandingkan anak dengan orang lain. 3. Jangan melontarkan kritikan yang tidak membangun, seperti: Kamu pemalas, tidak berguna. 4. Jangan menyalahkan anak atas sesuatu yang anda lakukan. ISI Menurut Lipsitt (1969) manusia yang baru lahir merupakan organisme dengan kemampuan belajar efisien. Tahun-tahun awal dalam kehidupan manusia adalah masa belajar intensif yang amat banyak membuahkan hasil. Perolehan bahasa, pengetahuan tentang berbagai benda dan pengenalan kehidupan sosial terjadi pesat dalam masa lima tahun pertama. 1. Pentingnya pendidikan anak sejak dini Pendidikan yang dapat diberikan pada anak sejak lahir sangat sederhana, seperti mengajak bicara, memperkenalkan barang dan orang-orang yang ada dilingkungan sekitar. Hal-hal tersebut merupakan stimulus yang dapat diberikan untuk merangsang perkembangan anak. Stimulus merupakan perangsangan yang dating dari lingkungan luar individu anak, seperti orangtua dan lingkungan. Semakin banyak anak mendapat stimulus semakin cepat ia belajar dan berkembang. Hal yang perlu diperhatikan bagi orangtua ialah ada atau tidaknya stimulus yang diberikan kepada anak serta bagus tidaknya stimulus yang diberikan. Ketika stimulus yang diberikan kepada anak bagus, maka anak dapat belajar dan berkembang dengan optimal. Dan ketika stimulus yang diberikan tidak baik, maka anak tidak dapat belajar dan berkembang dengan optimal, apalagi jika stimulus tidak diberikan sama sekali, maka anak tidak dapat belajar dan berkembang dengan baik. Bower (1989) menjelaskan—dalam bukunya, Rational Infant—bahwa bayi dalam ’tahap infansi’ sudah dapat berpikir logis. Diperkuat oleh data dari Monnier (1981) yang menunjukkan bahwa bayi berusia sekitar satu tahun dapat menggunakan kalkulus logis secara formal seperti anak usia remaja akhir. Artinya, kemampuan berpikir sudah ada pada manusia sejak tahun pertama kehidupan. 2. Cara Mengajar Anak Berpikir Kritis Dalam Berbagai Area: Seni Bahasa, Matematika, Ilmu Pengetahuan, Dan Ilmu Sosial Anak usia 4-6 tahun dapat diajar berpikir kritis pada berbagai area: seni bahasa, matematika, ilmu pengetahuan dan ilmu social. Dahulu teknik pendidikan yang diberikan pada anak adalah dengan memberi dan anak hanya menerima segala informasi yang diberikan tanpa dituntut untuk memecahkan masalah. Hal ini sangat tidak efektif utnuk memacu kreativitas dan kemampuan anak untuk berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis dapat membantu anak membuat keputusan yang tepat berdasarkan usaha yang cermat, sistematis, logis, dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang. Bukan hanya mengajar kemampuan yang perlu dilakukan, tetapi juga mengajar sifat, sikap, nilai, dan karakter yang menunjang berpikir kritis. Banyak orangtua belakangan ini memiliki ketakutan anaknya akan terpengaruh oleh banyak hal negatif. Teknologi informasi yang berkembang pesat melahirkan jutaan informasi setiap hari, yang sebagian besar mengandung informasi yang mungkin berpengaruh buruk terhadap diri anak. Ketakutan ini beralasan. Namun, tidak mungkin dan tidak bijaksana mengisolasi anak-anak dari berbagai informasi, seperti mengurung anak di dalam rumah, melarang anak bersosialisasi dengan lingkungan, dan melarang anak untuk menanyakan hal-hal yang ingin diketahuinya. Hal yang perlu dilakukan untuk melindungi anak dari berbagai pengaruh buruk adalah dengan membangun kemampuan pengolahan informasi yang memadai, serta menjadikan mereka sebagai orang yang mampu mencermati dan memilih informasi yang baik bagi dirinya. Mendidik mereka berpikir kritis dapat membantu orangtua untuk menghindarkan anak dari kemungkinan menggunakan informasi yang tidak tepat. Mendidik anak berpikir kritis akan membantu anak untuk secara aktif membangun pertahanan diri terhadap serangan informasi di sekelilingnya. Melatih anak berpikir kritis sejak muda memang dimungkinkan, tentu saja dengan mempertimbangkan tahap perkembangannya. Hal itu dapat dilakukan dengan mempersiapkan kurikulum pendidikan yang berdasarkan berpikir kritis. Paul (1994) mengusulkan strategi pengajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir dialogis dan dialektikal. a. Anak dapat mulai diajarkan keterampilan observasi dasar, seperti mengamati kelompok untuk mencari tahu apa yang membuat kelompok terbentuk. Lewat pengamatan, anak juga dapat diajak memahami apa itu bunyi, udara, air, cahaya, suhu, tanah, serta berbagai kayu dan logam. Dalam melakukan observasi anak dapat diperlengkapi dengan alat bantu seperti kaca pembesar, alat pengukur suhu dan sebagainya. Mereka dapat diberi tugas yang derajat kesulitannya bervariasi: dari mulai mencocokkan nama yang terdapat dalam daftar dengan stimulus tertentu (teman, bunyi, cahaya, dan lain-lain) yang ditampilkan oleh fasilitator, sampai ke menjelaskan karakteristik dari hal yang diamatinya, bahkan menjelaskan hubungan hal-hal itu dengan manusia. b. Anak juga dapat belajar berpikir kritis dari pengandaian-pengandaian. Anak diminta mengandaikan kejadian yang mungkin terjadi meskipun belum pernah terjadi dalam keseharian mereka. Misalnya mereka diminta untuk membayangkan apa yang terjadi jika tidak ada air, atau bayangkan jika tak ada cahaya. c. Anak juga dapat diajak untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru. Contohnya, minta anak untuk mencari cara lain untuk menulis selain menggunakan ballpoint atau pensil. Atau anak diminta mencari kegunaan lain dari suatu benda. d. Anak dapat diajarkan untuk menemukan kesalahan-kesalahan dari keseharian dengan menggunakan gambar. Contoh: kepada anak ditunjukkan benda tertentu yang kurang lengkap, lalu minta mereka menemukan lima kesalahan dari gambar itu. Atau kepada anak ditunjukkan gambar orang membuang sampah dan ditanya apa yang salah dengan orang dalam gambar itu, mengapa salah dan bagaimana seharusnya. Untuk stimulus yang lebih kompleks dapat digunakan rangkaian gambar yang memuat beberapa kesalahan, lalu anak diminta menemukan kesalahan dalam rangkaian gambar itu. Contoh: tunjukkan serangkaian gambar yang memuat dua atau lebih anak yang berselisih dan menyelesaikan perselisihan dengan berkelahi, lalu tanya kepada mereka apa yang salah dari perilaku anak-anak dalam rangkaian gambar itu. Di sini dapat juga digunakan rangkaian gambar kecelakaan. Misalnya gambaran orang kecelakaan tabrakan sepeda atau orang terkena strum. Jawaban-jawaban anak dapat menjadi bahan diskusi yang merangsang anak untuk berpikir kritis. e. Anak juga dapat diajak untuk mendengarkan musik-musik tertentu yang dapat menstimulasi perkembangan anak, seperti: 1) Meningkatkan kemampuan komunikasi anak 2) Sebagai pembelajaran pada anak usia pra sekolah untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, berpikir logis, emosional, seni musik 3) Menstimulasi kemampuan motorik anak, karena akan merangsang otak untuk menerima sinyal dari otot, kulit, dan persendian. 4) Meningkatkan kemampuan anak untuk membangun hubungan social dengan melibatkan perilaku emosional, social, dan intelektualnya Penting untuk diperhatikan, jangan memaksa anak untuk berpikir keras di luar kemampuan dan minatnya. Anak yang merasa dipaksa akan cenderung pasif dan menghindar dari kegiatan berpikir. Akibatnya anak cenderung negativistik. Penting juga membiasakan anak mencari tahu sendiri dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat. Jika anak terlalu cepat diberi tahu, ia cenderung pasif dan menerima begitu saja segala sesuatu. Anak yang sering dilarang akan berkembang menjadi anak yang takut membuat keputusan sehingga cenderung pasif dan dependen. 3. Pentingnya pemenuhan kebutuhan harga diri pada anak Seperti telah dijelaskan pada poin 2 di atas, berbagai upaya dapat dilakukan untuk meningkatkan harga diri anak, baik itu melalui pembelajaran matematika, biologi, seni dan ilmu pengetahuan lainnya. Ketika anak diberikan reinforcement positif terhadap aktivitas yang mampu ia lakukan dan memunculkan pikiran kritisnya, tindakan ini dapat meningkatkan harga diri anak. Sebaliknya, ketika diberikan reinforcement negative atau anak tidak dipuji, hal ini dapat menurunkan harga diri anak, yang nantinya akan membuat anak tidak percaya diri dan membuat anak merasa tidak nyaman ketika berada di keluarganya. Ketika anak tidak mampu melakukan suatu aktivitas dan ia dibantu oleh keluarga untuk menyelesaikan kegiatan tersebut yang merangsang pemikiran kritisnya, hal ini dapat meningkatkan harga diri anak, meningkatkan motivasinya untuk belajar, bahkan dapat meningkatkan kedekatan antara keluarga dan anak. Ketika anak tidak mampu dan tidak dibantu oleh keluarga maka harga diri anak akan menurun bahkan tidak ada serta mengakibatkan anak terisolasi dari lingkungan keluarga dan masyarakat. d. Kiat – kiat meningkatkan harga diri anak Hal-hal yang perlu dilakukan : 1. Cintailah anak apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tunjukkanlah kepada mereka bahwa anda mencintainya. 2. Berhati-hatilah dengan perkataan anda, orangtua adalah manusia yang tentunya juga bisa khilaf saat marah, namun berusahalah untuk selalu menjaga perkataan anda, karena terkadang kata-kata yang menjatuhkan bisa membekas di hati mereka. 3. Berilah pujian atas keberhasilan mereka. 4. Dengarkan lah cerita mereka, berikan simpati atas masalah yang mereka hadapi. 5. Berikan dorongan kepada mereka untuk berpikir sendiri dan melakukan hal-hal yang mereka senangi. 6. Berikan kesempatan untuk mereka melakukan hal-hal yang baru, jangan tergesa-gesa menawarkan bantuan. 7. Luangkan waktu untuk bersama mereka, sekedar bersantai dan bermain, atau bertukar cerita. 8. Berilah mereka tanggung jawab sesuai dengan umurnya. 9. Ajari mereka bertanggung jawab atas perbuatannya, misalnya meminta maaf pada teman saat melakukan kesalahan. Hal-hal yang harus dihindari : 1. Jangan hanya mencintainya pada saat dia melakukan hal-hal yang sesuai keinginan anda. 2. Jangan membandingkan anak dengan orang lain. 3. Jangan melontarkan kritikan yang tidak membangun, seperti: Kamu pemalas, tidak berguna. 4. Jangan menyalahkan anak atas sesuatu yang anda lakukan.

This entry was posted in Tak Berkategori. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s