ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN

Gangguan sistem integumen adalah suatu gangguan yang berhubungan dengan jaringan penutup permukaan tubuh, seperti membran mukosa dan kulit, yang sering terjadi dan bersifat relatif ringan( Nursalam)
Gangguan sistem integumen ini sering dialami oleh bayi dan anak. Meskipun sifatnya relatif ringan, apabila tidak ditangani secara serius, maka hal tersebut dapat memperburuk kondisi kesehatan bayi dan anak.
Adapun yang termasuk dalam gangguan sistem integumen yang sering terjadi pada masa balita adalah :
• oral trush, ruam popok, impetigo,muntah, regurgitasi, &ikterus fisiologis.

1. ORAL TRUSH
• Konsep dasar penyakit
a. Definisi
Yaitu adanya bercak putih pada lidah, langit-langit dan pipi bagian dalam (Wong, 1995).
Bercak tersebut sulit untuk dihilangkan dan jika dipaksa untuk diambil, maka akan menyebabkan perdarahan. Oral trush ini sering juga disebut dengan oral candidiasis atau moniliasis. Oral trush sering terjadi pada masa bayi. Seiring dengan bertambahnya usia, maka angka kejadian makin jarang.
b. Penyebab
Penyebab oral trush pada umumnya adalah candida albicans. Candida albicans ini adalah sejenis jamur yang bisa ditularkan melalui vagina ibu yang terinfeksi selama persalinan (saat bayi baru lahir) atau transmisi melalui botol susu dan putting susu yang tidak bersih atau prosedur cuci tangan yang tidak benar. Oral trush ini sering menyerang bayi pada 6 bulan kandungan pertama.
c. Tanda dan gejala
Oral trush biasanya ditunjukkan dengan adanya bercak putih, krem atau kuning di membran mukosa mulut. Bercak-bercak ini kadang terlihat seperti pondok-pondok keju “cottage cheese”. Dan kadang bercak-bercak ini sulit dibedakan dengan sisa air susu, terutama pada bayi yang mendapat susu formula. Bedanya, sisa susu yang berupa lapisan endapan putih tebal dapat dibersihkan dengan kapas lidi yang dibasahi dengan air hangat, sedangkan oral trush tidak demikian. Bercak pada oral trush sulit dihilangkan dan bila diambil untuk diperiksa akan menyebabkan perdarahan. Bercak oral trush bisa ditemukan di pinggir mulut, pada bibir, lidah atau bagian dalam pipi.
• Asuhan anak dengan oral trush
a) Pengkajian
– Tampak bercak keputihan pada mulut, terutama pada lidah dan pipi bagian dalam yang sulit dibersihkan.
– Anak kadang-kadang menolak untuk minum.
– Pola kebersihan cenderung kurang. Orang tua jarang mencuci tangan saat merawat atau menetekkan bayinya. Selain itu, kebersihan botol atau putting ketika menyusui bayi juga kurang diperhatikan.
b) Masalah
o Infeksi pada mukosa oral
o Gangguan integritas kulit
o Perubahan kenyamaan : nyeri
o Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
o Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
c) Diagnosa
o Gangguan integritas kulit(mukosa oral) b.d infeksi pada mukosa oral
o Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake tidak adekuat.
d) Perencanaan
Dx : gangguan integritas kulit (mukosa oral) b.d infeksi pada mukosa oral
Kriteria hasil :
anak menunjukkan tanda-tanda penyembuhan mukosa oral
Anak tidak menunjukkan tanda-tanda komplikasi, seperti diare
Ibu menunjukkan cara perawatan putting susu dan botol susu yang tepat
Ibu mencuci tangan sebelum dan sesudah menyusukan bayi
o Bayi :
– Jaga kebersihan bayi
– Untuk perawatan mulut bayi, bersihkan terlebih dahulu dengan jari yang dibungkus dengan kain bersih/kassa yang telah dibasahi dengan larutan garam. Kemudian oleskan gentian violet 0,25% pada mulut dengan kapas lidi.
– Atau bisa juga diberikan oral mycostatin 4xsehari sebanyak 1cc selama 1 minggu atau sampai gejal hilang.
o Ibu :
– Cuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi.
– Ibu yang terinfeksi candida harus diobati untuk mencegah infeksi berulang.
– Jaga kebersihan putting susu.
– Gunakan krem anti fungal pada putting untuk mencegah penyebaran infeksi antara ibu dengan anak.
– Bersihkan putting susu dengan air hangat setelah menetekkan bayi
– Botol : jaga kebersihan botol.

2. RUAM POPOK
• Konsep dasar penyakit
1. Definisi
Adalah inflamasi pada kulit yang disebabkan secara langsung atau tidak langsung oleh pemakaian popok (Wong, 1993). Ruam popok sering disebut juga dengan diaper rush atau diaper dermatitis.
2. Penyebab
Ada beberapa penyebab ruam popok, diantaranya :
o Iritasi yang lama dari urin dan feses→kulit bayi yang terpapar cukup lama dengan urin atau feses bisa menimbulkan iritasi pada kulit bayi.
o iritasi dari bahan kimia pencuci popok seperti sabun, detergen, pemutih, pelembut pakaian.
o Diare.
o Reaksi alergi terhadap bahan popok/ kulit yang sensitif.
o Pengenalan makanan tambahan
Lebih dari separoh bayi berusia 4-15 bulan terjadi ruam popok sedikitnya 1x dalam 2bulan.
3. Tanda dan gejala
Gejala ruam popok sangat bervariasi, mulai dari adanya makula eritematesus pada kulit yang tertutup popok, sampai adanya papula, vesikel, pustula, dan erosi superfisial.
Diaper rush ditunjukkan dengan adanya kulit di daerah sekitar bokong, paha, genitalia bayi yang meradang yang berwarna kemerahan dan agak panas. Bayi akan kelihatan tidak nyaman, susah tidur, gelisah ketika popoknya diganti. Dan mungkin bayi akan menangis ketika daerah diaper rush dibersihkan atau disentuh.
• Asuhan anak dengan ruam popok
1. Pengkajian
– Umur
Ruam popok umumnya terjadi pada anak yang berusia kurang dari 2 tahun. Setelah umur lebih dari 2 tahun, anak jarang mengalami hal ini.insiden terbanyak pada anak dengan usia 9-12 bulan.
– Pola kebersihan cenderung kurang terutam pada daerah perianal, bokong dan perut bagian bawah. Apabila selesai BAB/BAK, daerah pantat tidah dibersihakan dengan air sebelum diganti dengan popok yang bersih. Selain itu, popok basah terkena urin/feses yang tidak segera diganti, bahkan sampai kering kembali akan mempermudah terjadinya ruam popok.Bayi sering menggunakan popok plastik yang kedap air dan diposible, yang terbuat dari bahan sistesis, dalam waktu lama.
– Perlu dikaji bagaimana cara ibu mencuci pakaian dan popok. Apabila menggunakan popok disposible, harus diganti setiap beberapa jam. Pencucian yang tidak bersih dapat menyebabkan terjadinya ruam popok, akibat detergen yang tertinggal pada pakaian.
– Pada pemeriksaan daerah bokong, terjadi bintik-bintik kemerahan yang kadang berisi nanah.demikian juga pada daerah perut.
– Anamnesa faktor alergi.
2. Masalah Keperawatan
• Infeksi pada daerah bokong
• Gangguan integritas kulit
• Ganggua rasa nyaman: nteri
• Gangguan pola tidur
3. Diagnosa Keperawatan
o Gangguan integritas kulit b.d infeksi pada daerah bokong
o Gangguan pola tidur b. d nyeri
4. Intervensi
Dx : gangguan integritas kulit b. d infeksi pada daerah bokong
Kriteria hasil :
Anak menunjukkan tanda-tanda penyembuhan ruam pada bokong
Ibu dapat menjaga kulit bayi agar tetap kering
– Hindari penggunaan sabun yang berlebihan untuk membersihkan daerah pantat atau bokong.
– Sebaiknya bunakan kapas dengan air hangat atau kapas dengan minyak untuk membersihkan daerah perianal segera setelah BAB/BAK.
– Bila terdapat bintik kemerahan, berikan krem atau salep dan biarkan terbuka untuk beberapa saat.
– Jaga agar kulit tetap kering dengan cara :
o Apabila menggunakan popok kain, perhatikan agar sirkulasi udara tetap terjaga.
o Apabila menggunakan popok disposible, pilihlah yang menggunakan bahan super absorbent yaitu popok yang terbuat dari bahan yang mengandung gel penyerap.
o Hindari menggunakan popok/ celana yang tebuat dari plastik atau karet.
o Berikan posisi tidur yang selang-seling, terutama daerah pantat agar tidak tertekan dan dapat memberikan kesempatan pada bagian tersebut untuk kontak dengan udara.
o Jaga kebersihan tubuh dan lingkungan secara umum.
o Biarkan bayi tanpa popok selama beberapa saat.
o Penggunaan bedak talk dapat menjaga kulit bayi tetap kering.
o Pakaian, celana atau popok yang kotor sebelum dicuci, sebaiknya direndam dulu dengan air yang dicampur acidum boricum, kemudian dibilas, lalu dikeringkan. Hindari penggunaan detergen ataupun pengharum pakaian.

3. IMPETIGO
 Konsep dasar penyakit
a. Definisi
Impetigo adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri, yang menyebabkan terbentuknya lepuhan-lepuhan kecil yang berisi nanah (pustula). Impetigo biasanya ditemukan di wajah, lengan dan tungkai, namun bisa juga di daerah mana saja pada kulit. Impetigo paling sering menyerang anak-anak sekolah, sehingga sering disebut juga “ school sores”.
b. Penyebab
Ada dua bakteri peyebab impetigo adalah, stafilokokus aureus dan sterptokokus. Penularannya dapat melalui 2 cara, yaitu : kontak langsung dengan penderita dan kontak tidak langsung melalui benda-benda yang terkontaminasi seperti pakaian, handuk, mainan, dll.
c. Tanda dan gejala
Impetigo diawali dengan tunbuhnya bulae (lepuh)berisi nanah berwarna kuning yang ukurannya mulai dari beberapa milimeter sampai beberapa centimeter. Impetigo ini mudah pecah dan menjadi luka terbuka yang ukurannya dapat menjadi lebih besar. Bulae ini akan pecah dalam 1 atau2 hari dengan meninggalkan warna merah, basah dan tertutup krustae(keropeng), serta dapat menyebar ke bagian kulit lain.

 Asuhan keperawatan pada anak dengan impetigo
1. Pengkajian
• Usia. Sering terjadi pad anak berusia di bawah 5 tahun.
• Terdapat bulae(lepuh) pada bagian tubuh tertentu. Dalam 1-2 hari lepuh akan pecah kemudian membentuk krustae (keropeng).
• Pola kebersihan relatif kurang. Orang tua yang mengabaikan masalah kebersihan merupakan faktor yang mempermudah terjadinya penularan, seperti, pakaian dan handuk dipakai bersama, serta tidak mencuci tangan sebelumdan sesudah memegang lepuh/krustae.
2. Masalah
a. Gangguan integritas kulit
b. infeksi
c. Resiko penularan
d. Gangguan rasa nyaman : nyeri
3. diagnosa;
o gangguan integritas kulit b.d infeksi
o resiko penularan b.d adanya agen infeksius pada kulit
4. Intervensi
Dx : gangguan integritas kulit b.d infeksi
Kriteria hasil :
o Anak menunjukkan tanda-tanda penyembuhan impetigo
o Anak mendapat nutrisi yang adekuat
a. Rawat bulae/krustae dengan prinsip aseptik. Untuk melepaskan krustae (keropeng), basahi dulu bagia tersebut dengan larutan aseptik (misal:savlon). Bila di rumah tangga bahan tersebut tidak tersedia, maka bisa menggunakan air matang dan sabun. Jika krustae sudah hilang, oleskan salep antibiotik 2-3 kali sehari.
b. Usahakan agar salep tetap berada pada luka dan anak tidak menggaruknya.
c. Bila tidak ada perbaikan, ajurkan agar anak dibawa kedokter lagi. Kemungkinan dokter akan mengkultur dan memberikan antibiotik jenis lain.
d. Berikan nutrisi yang cukup.
Dx : resiko penularan b.d adanay agen infeksius pada kulit
Kriteria hasil:
o Anggota keluarga dapat menjaga diri dari penderita impetigo
o Keluarga dapat melakukan perawatan segera pada anak yang menderita impetigo
a) Jaga kebersihan tubuh dan lingkungan. Pisahkan celana/pakaian yang kotor, pakaian anak yang menderita impetigo saat mencucinya.
b) Jauhkan kontak dari anak lain untuk sementara. Orang tua harus hati-hati, hindari kontak dengan anak sehat.
c) Jelaskan tentang impetigo kepada anggota keluarga lain, agar masing-masing dapat menjaga dirinya sendiri. Apabila ada anggota keluarga yag tertular, segera rawat dan obati.

4. MUNTAH
 Konsep dasar peyakit
1) Pengertian
Muntah adalah keluarnya kembali sebagian besar atau seluruh isi lambung yang terjadi secara paksa melalui mulut, diserati dengan kontraksi lambung dan abdomen (markum : 1995).
2) Penyebab
Muntah bisa disebabkan karena adanya faktor fisiologis seperti kelainan kongenital dan infeksi. Selain itu muntah juga disebabkan oleh gangguan psikologis seperti keadaan tertekan atau cemas, terutama pada anak yang lebih besar.
Ada beberapa gangguan yang dapat diidentifikasi akibat muntah yaitu:
• Muntah terjadi beberapa jam setelah keluarnya lendir yang kadang disertai dengan sedikit darah. Hal ini kemungkinan terjadi karena iritasi lambung akibat sejumlah bahan yang tertelan selama proses kelahiran.
• Muntah yang terjadi pada hari-hari pertama kelahiran, dalam jumah banyak, tidak secara proyektil, tidak berwarna hijau, dan cenderung menetap biasanya terjadi akibat dari obstruksi usus halus.
• Muntah yang terjadi secara proyektil (menyemprot) dan tidak berwarna kehijauan merupakan tanda adanya stenosis pilorus.
• Selain keadaan tersebut diatas, yang juga dapat menjadi salah satu tanda adalah peningkatan tekanan intra kranial, alergi susu, infeksi , atau gangguan lainnya.
• Muntah yang terjadi pada anak yang tampak sehat. Hal ini terjadi mungkin karena kesalahan pada teknik pemberian makan atau pada faktor psikososial seperti gangguan pada hubungan pada ibu dan anak.
 Asuhan keperawatan anak dengan muntah
a. Pengkajian
 Anamnesis tentang waktu terjadinya muntah, sifat muntahan ( misal : proyektil atau tidak, warna, dan bahan yang keluar.
 Pola makan anak, makanan yang dimakan serta adanya alergi susu atau makanan tertentu.
 Riwayat penyakit dan kemungkinan penyakit yang menyertainya, seperti obstruksi usus halus, stenosis pilorus, atau gangguan lainnya.
 Bayi dengan tanda-tanda dehidrasi bila muntahannya hebat.
 Hubungannya dengan orang tua. Pada kondisi tertentu, faktor psikologis bisa merupakan faktor pencetus muntah.
 Pemeriksaan penunjang.
 Apabila muntah terjadi terus-menerus, maka diperlukan pemeriksaan USG abdomen dan radiologis. Hal tersebut dimaksudkan untuk memastikan letak gangguan/ kelainan.
b. Masalah
1. gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
2. gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
3. nyeri
4. obstruksi jalan nafas
c. Diagnosa
o Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d peningkatan pengeluaran cairan melalui muntah
o Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan intake akibat anoreksia
o Kerusakan pertukaran gas b.d obstruksi jalan nafas
o Gangguan rasa nyaman nyeri b.d iritasi pada saluran pencernaan(faring dan esofagus)
d. Intervensi
Dx : gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d peningkatan pengeluaran cairan melalui muntah
Kriteria Hasil :
o Gejala muntah berhenti
Pada dasarnya, muntah yang tidak disertai gangguan fisiologis tidak memerlukan penanganan khusus. Meskipun demikian, muntah tersebut tidak bisa diabaikan begitu saja. Untuk itu, diperlukan tindakan sebagai berikut :
 Ukur tanda-tanda vital
 Ajarkan pola makan yang benar da hundari makanan yang merangsang serta menimbulkan alergi. Pemberian makan juga harus disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak, dengan memperhatikan menu gizi seimbang, yaitu makanan yang bervariasi dan mengandung serat, protein, vitamin, dan mineral. Protein dan susu sapi,telor, kacang-kacangan, dan ikan laut kadang-kadang menyebabkan alergi. Untuk orang tua harus hati-hati dan bila perlu diganti dengan bahan makanan yang lain.
 Ciptakan suasana tenang dan menyenangkan saat makan. Hindari anak makan sambil berbaring atau tergesa-gesa. Agar saluran cerna mempunyai kesempatan yang cukup untuk mencerna makanan yang masuk.
 Ciptakan hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak. Orang tua yang mengabaikan kehadiran anak menciptakan situasi yang menegangkan. Situasi tersebut merupakan situasi yang tidak menyenangkan bagi anak dan dapat berdampak bagi fisik anak. Oleh karena itu, kasih sayang yang mencukupi dan bimbingan yang bijaksana dari orang tua merupakan hal yang sangat diperlukan.
 Lakukan kolaborasi. Apabila muntah disertai dengan gangguan fisiologis, seperti warna muntah yang kehijauan, muntah secara proyektil, atau gangguan lainnya, segeralah bawa anak ke dokter untuk mendapatkan penanganan secepatnya. Selain itu, pemeriksaan penunjang juga sangat diperlukan.

5. REGURGITASI
 Konsep dasar penyakit
1. Pengertian
Regurgitasi adalah keluarnya kembali sebagian susu yang ditelan melalui mulut dan tanpa paksaan, beberapa saat setelah minum susu ( Depkes RI, 1999).
Regurgitasi merupakan keadaan normal yang sering terjadi pada bayi dengan usia di bawah 6 bulan. Seiring dengan bertambahnya usia diatas 6 bulan, maka regurgitasi semakin jarang dialami oleh anak. Namun, regurgitasi dianggap abnormal apabila terjadi terlalu sering atau hampir setiap saat. Juga kalau terjadinya tidak hanya setelah makan dan minum tapi juga saat tidur. Selain itu juga pada gumoh yang bercampur darah. Gumoh yang seperti ini tentu saja harus mendapat perhatian agar tidak berlanjut menjadi kondisi patologis yang diistilahkan dengan refluks esofagus. Regurgitasi atau gumoh harus dibedakan dengan muntah. Bedanya dengan muntah, gumoh terjadi secara pasif. Artinya, tak ada usaha si bayi untuk mengeluarkan atau memuntahkan makanan atau minumannya (artinya: keluar sendiri). Si bayi ketika gumoh mungkin saja sedang santai dalam gendongan atau dalam keadaan berbaring atau bermain. Sedangkan muntah terjadi secara aktif. Muntah merupakan aksi reflek yang dikoordinasi medula oblongata, sehingga isi lambung dikeluarkan dengan paksa malalui mulut.
2. Penyebab
Ada beberapa penyebab terjadinya regurgitasi, yaitu posisi saat menyusui yang tidak tepat, minum terburu-buru, atau anak sudah kenyang tetapi tetap diberi minum karena orangtuanya khawatir kalau anaknya kekurangan makan. Bayi gumoh sesudah biasanya hanya untuk membersihkan sisa susu dari mulutnya. Gumoh menjadi abnormal bila jumlahnya banyak dan pertambahann berat badan tidak optimal.
 Asuhan keperawatan anak dengan regurgitasi
1. Pengkajian
• Usia, gumoh sering terjadi pada anak dengan usia di bawah 6 bulan.
• Cara dan bahan makanan yang keuar. Hal ini dimaksudkan untuk mengidentifikasiapakah anak mengalami gumoh atau muntah.
• Pola minum yang perlu diperhatikan adalah apakah susu diberikan dengan menggunakan botol, sendok, atau menetek pada ibunya, sudah benarkah cara minumnya, serta berapa jumlah dan cara pemberiannya.
• Suasana saat minum, anak yang tergesa-gesa minumnya mudah mengalami gumoh.
2. Masalah
Resiko refluks gastroesofagus
3. Intervensi
• Perbaiki teknik menyusui. Cara menyusui yang benar adalah mulut bayi menempel pada sebahagian areola dan dagu menempel pada payudara ibu.
• Apabila menggunakan botol, perbaiki cara minumnya. Posisi botol susu diatur sedemikian rupa sehingga susu menutupi seluruh permukaan botol dan dot harus masuk seluruhnya ke dalam mulut bayi.
• Sendawakan bai sesaat setelah minum. Bayi yang selesai minum jangan langsung ditidurkan, tetapi perlu disendawakan terlebih dahulu. Cara menyendawakan bayi :
1. Bayi digendong agak tinggi (posisi berdiri) dengan kepala tersandar pada pundak ibu. Kemudian punggung bayi ditepuk perlahan-lahan sampai terdengar suara bersendawa.
2. Menelungkupkan bayi di pangkuan ibu.lalu, usap/tepuk, punggung bayi sampai terengar suaraa bersendawa.

6. IKTERUS FISIOLOGIS
 Konsep Dasar Penyakit
1. Pengertian
Ikterus fisiologis adalah warna kekuningan pada kulit, yang timbul pada hari ke 2-3 setelah lahir dan tidak mempunyai dasar patologis dan akan menghilang dengan sendirinya pada hari ke10.
2. Penyebab
Penyebaba dari ikterus fisiologis pada bayi adalah karena belum matangnya fungsi hati pada bayi, sementara bayi memiliki jumlah sel darah merah yang lebih besar dari pada orang dewasa, (berdasarkan jumlah sel darah merah janin per Kg berat badan), an umur sel darah merah yang lebih pendek yaitu 40-90 hari dari pada orang dewasa.
Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari hemoglobin yang terlepas saat pemecahan sel darah merah. Hati mengatur jumlah bilirubin tidak terikat dalam peredaran darah atau dikenal dengan bilirubin indirect. Bilirubin indirect ini tidak larut dalam air da hampir seluruhnya terikat dengan albumin(protei plasma)di dalm sirkulasi. Bilirubin tidak terikat ini bisa meninggalkan sistem peredaran darah dan memasuki jaringan ekstravaskuler(seperti: kulit, sklera, mukosa mulut).
Di dalam hati, seharusnya bilirubin indirect inibersenyawa dengan protein y dan z pada sela hati dan dibantu oleh enzim gukorinil transferase untuk menghasilkan bilirubin direct(bilirubin yang larut dalam air. Namun karena fungsi hati bayi yang belum matang, maka kemampuan hati untuk melakukan konjugasi dan ekskresi bilirubin direct kecil. Sehingga sebahagian neonatus mengalami peningkatan bilirubin indirect. Peningkatan kadar bilirubin ini tak melebihi 10mg/dl pada bayi cukup bulan dan 12mg/dl pada bayi kurang bulan, yang terjadi pada hari ke 2-3 dan mencapai puncaknya pada hari ke 5-7, dan kemudian menurun kembali pada hari ke 10-14.
Ikterus fisiologis juga dapat disebabkan oleh pemberian minum yang belum mencukupi. Semakin banyak jumlah pemberian ASI, semakin rendah kadar bilirubin bayi, karena kolostrum adalah laksatif alami yang membantu dalam pengeluaran mekonium. Sebaliknya, jika bayi mendapat asupan ASI yang kurang, maka kadar bilirubin bayi akan semakin tinggi.
3. Tanda Dan Gejala
Tampak warna kekuningan pada kulit dan sklera bayi.
 Asuhan keperawatan Anak Dengan Ikterus Fisiologis
1. Pengkajian
a. Usia anak 2-3 hari. Kadang-kadang timbul pada hari ke 4-5. apabila kekuningan timbul pada usia sebelum 2 hari, maka dicurigai adanya ikterus patologis.
b. Tampak warna kekuningan pada tubuh bayi.
c. Minum belum mencukupi, terutama pada bayi prematur yang refleks hisapnya masih lemah. ASI juga belum keluar terutama pada hari-hari pertama.
d. Riwayat kesehatan. Anak tampak sehat dan tidak terlihat adanya tanda-tanda ikterus patologik dan kelainan lainnya.
e. Pemeriksaan kadar bilirubin. Kadar bilirubin indirect tdak lebih dari 10mg/dl pada bayi atrem, dan tidak lebih dari 12,5 mg/dl pada bayi prematur. Sementara kadar bilirubin direct tidak lebih dari 1mg/dl.
2. Masalah
 Resiko terjadinya ikterik patologis
3. Intervensi
o Bayi dengan ikterik fisiologis sebenarnya tidak memerlukan penanganan khusus karena menghilang dengan sendirinya pada hari ke10.
o Segera berikan ASI unutk merangsang pengeluaran mekonium
o Pemberian minum secara mencukupi sengat diperlukan pada bayi karena dapat membantu hati untuk mengekskresikan bilirubin, oleh karea itu, hindari puasa panjang pada bayi yang baru lahir.

This entry was posted in Tak Berkategori. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s